Dilema Pedagang Liar Monas, Dirazia Satpol PP dan Dimusuhi Pedagang Lama

Dilema Pedagang Liar Monas, Dirazia Satpol PP dan Dimusuhi Pedagang Lama

Nur Khafifah - detikNews
Kamis, 20 Feb 2014 11:15 WIB
Dilema Pedagang Liar Monas, Dirazia Satpol PP dan Dimusuhi Pedagang Lama
PKL di Monas kembali buka lapak (Khafifah/ detikcom)
Jakarta - Pemprov DKI Jakarta telah memberikan lahan bagi para pedagang yang kawasan Monas. Mereka dibebaskan berjualan asalkan di kawasan parkir IRTI.

Namun sayangnya tak sedikit pedagang yang tetap nekat berjualan di dalam. Meski tak aman dari kejaran Satpol PP, para pedagang ini enggan berjualan di lokasi yang telah disediakan karena sungkan dengan pedagang lama.

"Mereka sudah duluan jualan di sana (parkir IRTI). Kita nggak enak," ujar pedagang pakaian, Acep (27) di Monas, Jakarta Pusat, Kamis (20/2/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Acep, salah seorang temannya yang merupakan pendatang baru, pernah ditegur pedagang di parkir IRTI. Ia pun menjadi ciut nyali jika harus berdagang di kawasan tersebut.

"Nggak diancam sih, tapi namanya kita pendatang baru, tahu dirilah," kata pria yang telah berjualan di Monas selama 1 tahun ini.

Acep lebih memilih bentrok dengan Satpol PP dari pada harus berurusan dengan pedagang-pedagang lain. Namun ia tak menjelaskan alasannya tersebut.

"Ya nggak enak aja kalau berantem sama pedagang lain. Kalau sama Satpol PP, kita masih punya banyak teman senasib," ujarnya.

Selain sungkan dengan pedagang lain, menurutnya lahan parkir IRTI juga sudah cukup penuh. Sehingga ia semakin tak nyaman berjualan di area tersebut.

"Kalau di dalam sini masih luas, cuma harus waspada kalau sewaktu-waktu ditangkap," ujar pedagang lain, Obet (29).

Obet mengaku tak pernah dipungut biaya berjualan di Monas. Namun ia dan para pedagang lain menyetor uang kebersihan kepada petugas.

"Saya nggak tahu duitnya dikasih ke petugas yang mana. Biasanya diambilin sama pedagang lain, terus dia setor," kata penjual gantungan kunci ini.

Jumlah setoran setiap pedagang bervariasi. Untuk dagangan skala kecil seperti dirinya, uang yang disetorkan sebanyak Rp 5.000 setiap minggu.

"Kalau jualan kaos gitu Rp 10.000 seminggu," tuturnya.

Acep mengaku tak pernah kehilangan pemasukan. Jika hari ini dirazia, ia tetap akan mencuri-curi waktu lain disaat petugas lengah. Sehingga meski di siang hari tak ada pemasukan, ia akan bekerja pada malam hari.

"Ada aja deh pokoknya kalau kita mau usaha mah," ujar pria asal Bogor tersebut.

(kff/gah)


Berita Terkait