Wabah Malaria Serang Inhil-Riau, 10 Orang Meninggal
Sabtu, 04 Des 2004 18:12 WIB
Pekanbaru -
Wabah malaria masih mengganas di Kabupaten Indragiri Hilir(Inhil), Riau. Dalam sebulan terakhir terdapat 670 kasus, 10 orang di antaranya meninggal dunia.Gubernur Riau, Rusli Zainal mengungkapkan hal itu kepada wartawan, di ruang VIP Bandara Sultan Syarif Kasim II (SSK), Sabtu (4/12/2004) di Pekanbaru. Saat itu gubernur bersama rombongan Muspida TK Riau baru saja mengunjungi daerah yang terserang malaria tersebut dengan menggunakan heli.Di Kecamatan Mandah yang merupakan kampung halaman Gubernur Riau itu, terdapat 305 kasus malaria dengan satu orang meninggal dunai. Sedangkan di Kecamatan Kateman masih di kabupaten yang sama, terdapat 365 kasus dengan korban meninggal dunai 9 orang. "Jumlah korban malaria yang tewas sudah 10 orang," kata Gubernur Riau,Rusli Zainal.Dia menjelaskan, saat ini ada sekitar 8 warga yang masih dirawat di posko kesehatan yang terdapat di sejumah desa. Sedangkan 16 orang lainnya menjalani rawat jalan. Warga yang terserang wabah malaria ini, merupakan penduduk yang kehidupannya di bawah rata-rata."Mereka yang menjadi korban sebagian besar masyarakat yang hidupnya cukup prihatin. Masyarakat tidak memiliki dana untuk melakukan pengobatan malaria itu. Makanya kunjungan saya ke sana, selain meninjau korban juga memberikan dana bantuan," kata Rusli.Bantuan yang diberikan Pemerintah Provinsi Riau itu, antara lain, pemberian kelambu 400 buah, serta kacang hijau 2.300 kg serta bantuan uang Rp 100 juta. Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi Riau juga memberikan bantuan obat-obatan.Warga Enggan BerobatBerbagai kendala yang dihadapi pemerintah daerah dalam mencegah wabah maria ini, salah satunya adalah masih adanya kepercayaan pengobatan lewat dukun. Warga menganggap penyakit malaria itu merupakan 'teguran' dari Bujang Laut yang disebut-sebut semacam dewa penjaga laut di Inhil.Menurut mereka penyakit itu kutukan dari Bujang Laut sehingga untuk mengobatinya sebagain besar warga membawanya ke dukun. Kepercayaan semacam kutukan dewa laut itu, hingga kini masih diyakini warga."Sayakan orang sana, kepercayaan akan adanya Bujang Laut itu memang masih melekat. Itu sebabnya, setiap warga yang terkena malaria mereka bawa berobat ke dukun, bukan ke dokter," ujar Rusli Zainal.Namun demikian, kini sebagian warga mulai sadar bahwa penyakit malaria itu bukanlah sebuah kutukan. Setiap kali terjangkit malaria mereka segera membawa ke Puskemas terdekat."Tapi untuk menghilangkan kerpercayaan gaib itu, bukan hal yang mudah. Kita masih butuh waktu untuk mensosialisasikannya," kata Rusli.
(djo/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































