"Peringatan Hari Sampah Nasional 24 Februari di Taman Surya Kantor Wali Kota Surabaya. Surabaya kita jadikan role model sebagai kota yang berhasil mengatasi sampah," ujar Deputi Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya Beracun (B3), Limbah B3, dan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup Rasio Ridho Sani.
Hal ini disampaikan Rasio dalam acara Media Briefing tentang Pengelolaan Sampah dan Persiapan Agenda Hari Peduli Sampah 2014 serta Agenda Pertemuan Internasional di Gedung C Kementerian Lingkungan Hidup Jalan DI Pandjaitan, Kebon Nanas, Jakarta Timur, Rabu (19/2/2014).
Selain itu, terdapat dua agenda lainnya terkait pengelolaan sampah dan lingkungan hidup yang juga digelar di kota yang dipimpin Tri Rismaharini ini. Dua agenda tersebut yaitu Pertemuan 5th Regional 3R(reuse,reduce,recycle) Forum in Asia and Pacific pada 25-27 Februari dan Pertemuan 5th High Level Seminar on Environentally Sustainable Cities (ESC)pada 28 Februari-1 Maret 2014.
Salah satu program dari ESC adalah ASEAN ESC Model Cities yakni bentuk adopsi dan modifikasi program Adipura yang dilaksanakan Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia.
"Bisa dikatakan sebagai Adipura tingkat ASEAN. Sekarang masuk tahap kedua, bukan cuma ASEAN. Nanti akan diikuti 10 negara ASEAN dan 8 negara lain seperti Jepan, Korsel, China, India, Australia, Selandia Baru, Rusia, dan Amerika Serikat," ulasnya.
Rasio menjelaskan tagline yang diusung untuk seluruh rangkaian acara ini adalah 'Indonesia Bersih Sampah 2020'. "Tahun 2020 indonesia tidak ada sampah yang tidak terkelola," ucapnya.
Di kesempatan media briefing ini, hadir pula sebuah komunitas bank sampah yang berbasis di Jakarta Timur. Komunitas yang dirintis oleh seorang warga bernama Prakoso ini sudah berdiri sejak 2008. Di dalam forum, Prakoso menyampaikan keinginannya untuk membentuk bank sampah di bantaran Kali Ciliwung.
"Kita juga sebenarnya mau bikin bank sampah yang berada di dekat Kali Ciliwung supaya dapat menampung sampah di bantaran kali agar tidak dibuang ke kali tapi tanahnya sangat mahal," ujar Prakoso.
Prakoso mengaku komunitas bank sampah yang sudah beroperasi sejak tahun 2008 ini berjalan menggunakan biaya sendiri. Pihaknya telah mengajukan permohonan bantuan kepada DPRD pada tahun 2013 lalu.
"Mudah-mudahan Maret ini kita dapat bantuan. Masa orang buang sampah didenda Rp 500 ribu, kita yang membantu mengelola sampah (malah) tidak diperhatikan," imbuhnya.
Di komunitasnya di Malakasari, sudah ada 350 orang yang bergabung menjadi nasabah bank sampah. Untuk biaya operasional, komunitas memungut 10 persen dari nilai sampah yang disetor oleh nasabah.
Dia menjelaskan bahwa dengan menyetor sampah yang telah dipiliah dan dipilih kepada bank sampah, keuntungannya lebih tinggi. Sebab, bank sampah menetapkan harga yang lebih tinggi daripada jika dijual ke tukan rongsokan.
"Kami langsung berhubungan dengan pengepulnya," kata Prakoso.
(sip/nrl)











































