Di tengah elektabilitasnya yang tinggi, Gubernur DKI Jokowi malah diposisikan PDIP jadi cawapres Ketum Megawati Soekarnoputri. Di posisi kedua tokoh fenomena saat ini adalah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Akankah Risma terlahir menjadi penakluk Jokowi yang sebenarnya?
Di berbagai survei elektabilitas Risma terus meningkat. Risma dinobatkan sebagai penantang paling potensial bagi Jokowi oleh survei yang dilakukan oleh Laboratorium Psikologi Politik UI.
Demikian pula di survei yang digelar oleh Political Communication Institute (PolcoMM) pada Januari lalu, Risma juga menempati posisi teratas. Risma menjati tokoh muda paling potensial dengan elektabilitas 19,1% di atas Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso (18.5%), cawapres Hanura Hary Tanoesoedibyo (10.8%), Yusril Ihza Mahendra (9.7%), dan Puan Maharani (9.6%).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Risma sendiri mengaku tak berambisi jadi presiden. Sama seperti Jokowi, Risma memilih fokus membenahi Surabaya.
"Takdir saya jadi wali kota ya sudah saya full di situ. Saya tidak mau memikirkan yang lain," kata Risma saat berkunjung ke Gedung Trans TV di Jl. Kapten Piere Tendean, Jakarta Selatan, Selasa (11/2/2014).
"Ngurusin kota saja pusing apalagi kok presiden," celetuknya.
Risma mengaku melaksanakan tugas dengan tegas tanpa peduli hasil survei. Menurutnya, seorang pemimpin yang terlalu memantau hasil survei malah jadi tidak fokus.
(van/trw)











































