Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar workshop yang mengundang peneliti dari universitas dalam dan luar negeri untuk membahas dampak perubahan iklim pada wilayah pantai. Pertemuan ini dihadiri oleh ilmuwan dari bidang bahaya dan risiko bencana serta adaptasi perubahan iklim.
Kepala LIPI Lukman Hakim membuka acara ini dengan mengungkapkan bahwa saat ini bahaya akibat perubahan iklim sudah di depan mata. Bukti sudah terlihat betapa rentannya Asia Tenggara dan khususnya Indonesia dalam menghadapi banjir, angin topan, tanah longsor, hingga letusan gunung berapi.
"Kita harus melindungi dan mengelola sumber daya alam kita untuk kepentingan jangka panjang," kata Lukman di Grand Sahid Jaya Hotel, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (19/2/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penelitian lebih lanjut tentang pengurangan dampak bencana akibat perubahan iklim perlu dilaksanakan lebih intens lagi untuk meminimalisir risikonya. Bukan hanya untuk saat ini, namun juga untuk masa yang akan datang," kata Direktur Interdisciplinary and Advance Research Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (ICIAR-LIPI) Diaz Djaja Santika.
Diaz menambahkan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak daerah pesisir. Berbagai perubahan wilayah pesisir pun telah terjadi seperti kenaikan muka air laut, peningkatan abrasi yang akhirnya berdampak buruk bagi ekosistem dan kehidupan pesisir.
Pertemuan ini akan membahas tentang perubahan iklim dan masyarakat wilayah pesisir di Indonesia dan Asia Tenggara. Hal itu merupakan salah satu langkah positif untuk menentukan rencana pembangunan yang disesuaikan dengan dampak perubahan iklim.
(nrl/nrl)











































