Ikrar: Akbar Kandidat Ketua Umum Golkar Terbaik

Ikrar: Akbar Kandidat Ketua Umum Golkar Terbaik

- detikNews
Sabtu, 04 Des 2004 09:50 WIB
Jakarta - Musyawarah Nasional (Munas) VII Partai Golkar tinggal 11 hari lagi. Pertarungan menjadi orang nomor satu di partai berlambang beringin ini kian lama pun kian seru.Setidaknya sudah ada 4 nama yang mencuat ke publik yang disebut-sebut sebagai kandidat ketum. Mereka adalah Akbar Tandjung, Wiranto, Surya Paloh dan Marwah Daud Ibrahim. Namun, hingga kini baru Marwah yang secara resmi mengajukan diri menjadi kandidat.Bila dilihat dari draf Tatib Munas yang ada, dari 4 nama tersebut hanya Akbar dan Marwah saja yang memenuhi kriteria pencalonan ketum. Pasalnya, kriteria yang dicantumkan dalam Tatib tersebut sangat ketat.Pasal 39 ayat 1 a berbunyi "bakal calon ketua umum dianggap sah apabila pernah menjadi pengurus DPP Partai Golkar atau DPD Provinsi selama 1 periode penuh dan didukung minimal 10 suara".Merujuk pada ketentuan ini, tentu saja pencalonan Wiranto dan Surya Paloh hampir bisa dipastikan akan terjegal. Wiranto tercatat sebagai penasihat Partai Golkar sedangkan Surya merupakan mantan Ketua DPP AMPI (1984-1989). Dan hanya Akbar dan Marwah yang tercatat sebagai pengurus DPP Partai Golkar.Tak heran, bila saat ini desakan agar Tatib diubah terus bergulir. Mulai dari sesepuh partai yang mayoritas mantan pejabat negara era Orde Baru seperti mantan Wapres Sudharmono, mantan Menteri Penerangan Harmoko, mantan Mensesneg Moerdiono dan mantan Menteri Kehakiman Oetojo Oesman hingga organisasi Hasta Karya yang notabene onderbouw partai.Pengamat politik dari LIPI Ikrar Nusa Bhakti menilai, dari calon yang ada, Akbar Tandjung merupakan kandidat yang terbaik. "Komitmen Akbar sudah jelas dalam membangun Golkar dari masa krisis tahun 1998 hingga menjadi pemenang pemilu 2004," tukasnya dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (4/12/2004).Ikrar melihat, komitmen yang diberikan Wiranto dan Surya Paloh masih belum jelas. "Mereka masih belum terlihat sumbangsih yang nyata terhadap partai. Dan Akbar adalah calon yang tidak terkait dengan TNI," tandasnya.Apalagi, lanjut Ikrar, posisi ketum Golkar saat ini sangat strategis. "Karena Golkar merupakan pemenang dalam pemilu makanya jangan sampai jabatan ketua umum diisi oleh orang yang tidak cukup kuat komimennta dan hanya untuk menyelamatkan pemerintah saja," tegasnya.Meski demikian, kata dia, Akbar akan lebih bijak jika tidak maju menjadi ketum dan mencalonkan tokoh muda. "Akan lebih baik jika Akbar mengajukan calon yang umurnya dibawah 50 tahun dan tidak punya keterkaitan politik dengan TNI maupun pemerintahan yang ada saat ini," ujar Ikrar.Bila hal itu dilakukan, menurutnya bukan tidak mungkin pilpres 2009 akan dikuasai Golkar. "Karena bagaimana pun juga citra akbar di mata elit maupun masyarakat tetap buruk," paparnya.Sinyalemen Golkar akan pecah pasca Munas, jelas Ikrar, memang tetap ada. Tapi, bila didirikan partai baru tidak akan mampu menandingi Golkar. "Golkar di satu sisi telah berhasil membangun organisasi, sumbe daya manusia dan dana yang bagus," tuturnya.Mengenai manuver politik yang dilakukan sesepuh Golkar menjelang Munas, Ikrar menilai langkah tersebut tidak akan berdampak luas. "Generasi tua dengan sekarang memiliki realitas politik yang berbeda.""Kita sekarang hidup di alam demokrasi yang egaliter bukan oligarki kekuasaan yang otoriter. Belajarlah dari pengalaman Muktamar NU," tegas Ikrar.Akankah pencalonan Akbar mendapat saingan yang kuat dalam munas mendatang? Kita tunggu saja. (dit/)


Berita Terkait