Tim gabungan sudah berada di kawasan Bendungan Selorejo sejak Kamis pagi. Mereka memasang rambu jalur evakuasi di Kawasan Rawan Bencana (KRB) I.
Rencana awal memang Bendungan Selorejo menjadi titik penampungan jika erupsi Kelud terjadi.
Sariyanto (35), salah satu petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang bercerita tentang pengalamannya, selamat dari erupsi Kelud.
Detik-detik menjelang Kelud erupsi, Sariyanto tengah berusaha mengevakuasi warga berada di KRB I.
"Belum tuntas warga menaiki truk, letusan terjadi. Jelas kami lihat karena jaraknya dekat," cerita Sariyanto kepada detikcom, Senin (17/2/2014) malam.
Memang saat itu, Sariyanto bersama tim evakuasi lain membawa truk milik BPBD. Hujan abu memaksanya melarikan warga yang berhasil dievakuasi.
"Saat jalan, hujan batu terus turun. Di bangku depan ada anak usia 8 tahun. Saya memutuskan berhenti dan meminta semua berlindung dibawah bak truk," ujarnya seraya mengenang.
Deburan hujan batu bercampur abu vulkanik terus menghantam truk. Beruntung, Sariyanto dan warga selamat dari bencana itu.
"Semua tetap kami minta berada di bawah bak truk," katanya. Setelah intensitas hujan batu bercampur abu beransur reda. Sariyanto memutuskan melanjutkan perjalanan.
Ketakutan Sariyanto tak berhenti, batu bercampur debu terus menghantam kaca depan kendaraan. Sesak nafas sempat dirasakan, tapi perjalanan evakuasi harus tetap dilanjutkan.
"Jarak pandang sangat minim, kesulitan untuk mengetahui jalan. Jadi melaju pelan-pelan agar semua selamat," tuturnya.
Sariyanto bersama tim evakuasi lainnya mulai lega. Laju truk semakin meninggalkan KRB I untuk menuju posko penampungan di Kecamatan Pujon. "Alhamdulillah, kami selamat sampai Pujon," ucapnya.
Sariyanto dan tim evakuasi bekerja keras hingga esok siang. Tanpa rasa lelah dan takut, mereka berjuang menyelamatkan ribuan nyawa warga Ngantang.
(rmd/rmd)











































