Cerita Juwanto Nekat Bermalam di Rumah Saat Diguyur Abu dan Batu Kelud

Cerita Juwanto Nekat Bermalam di Rumah Saat Diguyur Abu dan Batu Kelud

- detikNews
Selasa, 18 Feb 2014 00:51 WIB
Cerita Juwanto Nekat Bermalam di Rumah Saat Diguyur Abu dan Batu Kelud
Wajah desa Ngantang, Malang yang hancur pasca diguyur hujan abu dan batu dari Gunung Kelud.
Malang - Juwanto (55), warga Dusun Kutut, Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, masih teringat erupsi Gunung Kelud yang menghajar pemukimannya, Kamis (13/2/2014) malam.

Bapak tiga anak ini nekat bermalam di dalam rumah. Meski hujan abu dan batu terus mengguyur. Pasca letusan pertama, Juwanto sempat berlindung di dalam pos terletak sekitar 500 meter dari rumahnya.

Pos kamling hanya berukuran 3x2 meter persegi itu harus menampung banyaknya warga yang berlindung.

"Saya dengan warga lain berlindung di pos kamling itu saat hujan abu dan batu. Setelah itu kembali ke rumah lagi," cerita Juwanto kepada detikcom, Senin (17/2/2014) sore.

Melanjutkan ceritanya, Juwanto saat Kelud meletus masih terjaga. Terdengar letusan pertama, dirinya langsung menyuruh istri dan tiga anaknya keluar rumah menjauh dari perkampungan.

"Pertama kalinya saya berlindung di kandang samping rumah, terus lari pos kamling dan balik lagi," sambungnya.

Gemuruh disertai hujan batu terus terjadi. Sementara istri dan anaknya berlari mendekati Bendungan Selorejo yang berjarak sekitar 2 kilometer.

"Banyak warga terutama ibu-ibu berlari ke arah bendungan. Agar selamat dari hujan batu," katanya.

Suasana panik dirasakan, karena tidak ada komando menginstruksikan warga agar meninggalkan rumah. "Tak ada komando, kita panik mencari selamat," tuturnya.

Derita Juwanto tak berhenti di situ. Dia harus bermalam di rumahnya selama erupsi Kelud terjadi.

Baru esok harinya, petani brambang ini mulai mencari istri dan anaknya ke pengungsian. "Istri saya ketemu di Batu bersama Didik anak saya pertama, adiknya yang bungsu," bebernya.

Pencarian terus dilakukan Juwanto untuk mencari keberadaan putra keduanya sepanjang hari.

"Sore baru ketemu anak saya kedua itu di pengungsian Pujon Kidul," ucapnya seraya lega.

Juwanto masih trauma dengan kejadian ini. Meskipun pada 1990 lalu, bersama keluarga ikut menjadi korban erupsi Kelud.

"Yang ini lebih besar, selama saya hidup di sini," ujar pria kelahiran Pandansari ini.

(rmd/rmd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads