Soal NSA, Marty ke Kerry: Kita Harusnya Saling Dengar Bukan Memata-matai

Soal NSA, Marty ke Kerry: Kita Harusnya Saling Dengar Bukan Memata-matai

- detikNews
Senin, 17 Feb 2014 14:59 WIB
Soal NSA, Marty ke Kerry: Kita Harusnya Saling Dengar Bukan Memata-matai
(Foto: Indah Mutiara Kami-detikcom)
Jakarta - Badan Keamanan AS lagi-lagi diberitakan menyadap kantor pengacara Amerika Serikat (AS) yang mewakili Indonesia dalam sengketa dagang di AS. Sebelumnya, dari dokumen pembocor Edward Snowden, AS menyadap Indonesia dibantu Australia, Korea Selatan dan Singapura. Apa kata Menlu Marty Natalegawa kepada Menlu AS John Kerry?

"Keseluruhan portofolio dari penyadapan ini menyita perhatian kita di Jakarta, Washington dan di berbagai ibukota di Eropa. Saya melihat Obama juga telah mengulas kembali jenis-jenis kegiatan yang dilakukan oleh NSA dan dampaknya bagi hubungan internasional," kata Menlu Marty saat ditanya tanggapan tentang penyadapan NSA yang dibantu Australia.

Hal itu disampaikan Marty dalam jumpa pers bersama Menlu AS John Kerry setelah pertemuan Joint Commission di Gedung Kemenlu, Jalan Pejambon, Jakarta Pusat, Senin (17/2/2014).

"Pemahaman kita bahwa pendekatan semacam itu (penyadapan) yang telah disinyalir oleh AS terkait hubungannya dengan Indonesia. Sejauh ini terkait dengan penyadapan menjadi satu isu yang menjadi perhatian," tutur Marty.

Marty mengungkapkan kekecewaan Indonesia kepada AS. Namun dia meyakini bahwa perbaikan dan pendekatan yang dilakukan secara konkret bisa sangat relevan meningkatkan hubungan kedua negara.

"Ini agak berlebihan. Dalam pandangan kami untuk negara seperti AS dan Australia, kita seharusnya saling mendengar dan bukan saling memata-matai," tutur dia.

Sementara Menlu AS John Kerry mengatakan bisa memahami keprihatinan di berbagai belahan dunia akan adanya isu penyadapan ini. Kerry menyampaikan Presiden Barack Obama mengubah kebijakan terkait penyadapan itu.

"Saya sangat paham keprihatinan ini di berbagai dunia. Kami mengaggap serius isu ini. Untuk itu Obama menggariskan beberapa reformasi terkait ini. Kami yakinkan kepada dunia bahwa hak mereka dilindungi. Kita juga harus memanfaatkan perangkat ini untuk mencegah terorisme," tutur mantan senator dari Partai Demokrat ini.

"AS tidak mengumpulkan intelijen dalam persaingan perdagangan dan komersial. Kami harus bertanggung jawab soal ini. Dan beberapa kesepakatan perdagangan, selalu ada perbedaan pendapat. Kita harus melakukan, melalui pemerintahan yang baik," tegas Kerry.

Dalam dokumen yang dibocorkan oleh Edward Snowden, pembocor intelijen Amerika Serikat, disebutkan bahwa badan intelijen Australia menyadap aktivitas telepon seluler milik SBY selama 15 hari pada Agustus 2009 lalu. Penyadapan juga dilakukan atas percakapan telepon Bu Ani dan sejumlah menteri Indonesia.

Menurut laporan yang dirilis Sydney Morning Herald berdasarkan dokumen rahasia yang dibocorkan Edward Snowden, jaringan spionase "Five Eyes" yang terdiri atas AS, Inggris, Australia, Kanada dan Selandia Baru menggunakan bantuan Singapura dan Korsel dalam misi spionase di kawasan Asia, terutama Asia Tenggara. Mereka menyadap kabel jaringan telekomunikasi bawah laut yang dimiliki perusahaan komunikasi terbesar di Asia Tenggara, SingTel. Atas laporan ini, SingTel yang dekat dengan intelijen Singapura, menolak berkomentar.

Malaysia dan Indonesia menjadi target selama puluhan tahun, lapor harian Australia Sydney Morning Herarld (SMH). SMH melaporkan bahwa Singapura dan Korea Selatan membantu AS menyadap dengan menggunakan kabel serat optik di bawah laut.

Laporan itu mengangkat peta yang dibocorkan oleh Edward Snowden dan diterbitkan surat kabar Belanda NRC Handelsblad. Peta itu menunjukkan jaringan di bawah laut untuk menyadap komunikasi. Singapura disebut sebagai salah satu lokasi tempat informasi penyadapan dapat diakses. SMH melaporkan Australia dan Singapura bekerja sama untuk mengumpulkan informasi intelijen tentang Indonesia dan Malaysia sejak tahun 1970-an.

Yang terbaru, NSA dilaporkan terlibat dalam pengawasan perusahaan hukum Amerika yang pernah mewakili Indonesia dalam sengketa dagang dengan AS, menurut harian the New York Times. Laporan the New York Times didasarkan pada laporan rahasia yang diperoleh oleh mantan analis NSA Edward Snowden.

Perusahaan itu tidak diungkapkan namanya dalam dokumen tersebut. Tetapi the Times menyebutkan firma hukum Mayer Brown yang berkantor di Chicago saat itu mewakili pemerintah Indonesia dalam sengketa dagang. Harian Amerika itu menyebutkan pemerintah Australia terlibat dalam pengawasan dalam pembicaraan itu dan menawarkan untuk membagi informasi dengan Amerika Serikat.

(nwk/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads