"Cara berpikir kita seharusnya ke depan, tidak usah ke belakang. Perjanjian itu kan masa lalu, daripada memikirkan hal seperti itu ya sebaiknya kita move on," ujar Hasto di Galeri Cafe Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat, Minggu (16/2/2014).
Menurut Hasto, perjanjian tersebut hanya berlaku jika Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri menjadi presiden pada 2009. Namun kenyataannya saat itu Mega kalah dalam pilpres.
"Kalaupun benar ada perjanjian itu maka kita juga harus memenuhi jabatan-jabatan menteri. Nah makanya menurut saya daripada memikirkan hal begitu lebih baik kita berpikirnya ke depan," imbuh Hasto.
Sebelumnya Hashim menyatakan bahwa perjanjian tersebut dibuat di Batutulis, Bogor, pada 15 Mei 2009. Isi perjanjian itu jelas Mega berjanji mendukung Prabowo. Mega dan Prabowo membubuhkan tandatangan di selembar kertas putih.
Pertemuan tersebut dihadiri semua petinggi PDIP dan Gerindra seperti Mega sendiri, Puan Maharani, Pramono Anung, Prabowo didampingi Fadli Zon, Martin Hutabarat, Hashim Djojohadikusumo, dan lainnya.
"Buktinya ada, saya sudah kasih liat ke petinggi PDIP," kata Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo.
(bpn/mad)











































