Menurut Kepala Pelaksana Bidang Pengamatan dan penyelidikan Gunung Api, Gede Swantika, bau yang dirasa oleh warga yang terkena dampak erupsi Gunung Kelud kemungkinan akibat uap dari material yang tersapu hujan.
Material tersebut terdapat dalam endapan tebal yang menutupi kota-kota yang berada di sekitar Gunung Kelud.
"Kemungkinan itu bau belerang dan agak menyengat baunya, boleh disebut gas beracun, tapi bahayanya di bawah ambang batas," kata Swantika saat dihubungi detikcom, Sabtu (15/2/2013).
Lain hal ketika gas tersebut tercium dari jarak dekat dengan lokasi erupsi. Menurut Swantika, bahaya gas beracun akibat erupsi Gunung Kelud memiliki radius tiga kilometer.
Hari ini Kelud mengalami penurunan aktivitasnya. Pantauan pihaknya, masih terlihat kepulan asap putih keabuan. Asap terbawa angin ke arah utara dan timur dengan ketinggian 300-500 meter.
Isu menyesatkan sempat menghantui masyarakat Kecamatan Pare dan Puncu, Kabupaten Kediri sehari setelah Gunung Kelud meletus. Warga ketar ketir karena berhembus isu gas beracun. Kabar yang sempat membuat panik itu menyebutkan gas beracun dan lahar dingin mengalir menuju ke sejumlah desa terdekat Gunung Kelud.
Ketua Satuan Pelaksana Bencana Gunung Kelud Letkol Inf Heriady pun berusaha menenangkan masyarakat yang sudah terlanjur mempercayai isu itu.
"Semuanya tidak benar, tidak ada gas beracun maupun lahar dingin, karena anggota saya semuanya ada di sana dan mengawasi," tegas Heriady, Sabtu, (15/2/2014).
(ahy/spt)











































