Karena tidak berjualan, para pedagang mengaku mengalami kerugian drastis. Jika berjualan pun, tidak ada yang beli, karena tidak ada wisatawan datang. Karena sejak hujan abu hari Jumat kemarin, kawasan Malioboro sepi.
Seorang PKL Malioboro penjual makanan yang mangkal di Depan DPRD DIY, Ibu Wiwin mengaku sepi dari para pembeli. Kondisinya jauh berbeda sebelum ada hujan abu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelik(30), tukang parkir di Jl Malioboro ini mengaku pendapatanya turun hingga 75 persen. Dia juga baru bekerja memarkir hari ini, karena Jumat kemarin memilih tetap dirumah. Tukang parkir lain hari ini, masih banyak yang belum datang.
"Biasanya itu, bisa sampai 100-an motor yang parkir. Hari ini, cuma 20-an motor,"katanya.
Menurutnya, penyemprotan abu vulkanik di Malioboro tidak maksimal. Masih banyak abu yang tersisia. Harusnya, penyemprotan juga dilakukan diatas, seperti di pohon atau atap. Karena jika yang disemprot hanya dibawah, abu yang diatas jika kena angin langsung turun dan mengotori lagi.
Kepala UPT Malioboro, Syarif Teguh mengatakan, kondisi lingkungan di Malioboro belum sehat. Karena masih banyak abu vulkanik yang berterbangan. Pihaknya berharap, aktivitas ekonomi di Malioboro dapat cepat pulih kembali.
(ndr/ndr)










































