"Buat kami tidak ada yang istimewa, biasa saja dalam proses layering harta kekayanan yang tidak ilegal," kata Direktur Pemeriksaan dan Riset PPATK Ivan Yustiavandana dalam diskusi 'Aliran dana Buat rakyat Jelita' di Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakpus, Sabtu (15/2/2014).
Menurut Ivan, tipikal transaksi keuangan yang mencurigakan tidak selalu berada pada titik orang dekat yang melakukan seperti keluarga, tapi profile yang disebut sebagai artis atau dalam bahasa diskusi kali ini 'rakyat jelita'
"Model seperti ini sudah kita temukan 2-3 tahun lalu, bahkan sejak UU diterbitkan tahun 2005. Tipikal transaksi keuangan yang mencurigakan tidak selalu berada pada titik orang (dekat) yang melakukan, tapi profile yang disebut rakyat jelita," ujarnya.
"Ini merupakan salah satu modus," imbuh Ivan.
Tapi Ivan menegaskan, bahwa aliran dana ke artis dari tersangka korupsi tidak selalu terkait dengan kesenangan atau sebutlah sex. Ada hal-hal yang bersifat profesional seperti pekerjaan.
"Misal pejabat negara tapi revenue (pendapat)nya lebih dari kemampuan yang sesungguhnya. Ke mana harta itu disalurkan, kalau keluarga ada batasan sehingga dia butuh kanal baru untuk salurkan dana-dana tersebut. Sehingga dia alirkan salah satunya ke jelita-jelita," ucapnya.
Tapi Ivan menegaskan bahwa kepentingan PPATK hanya pada ke mana saja aliran dana diduga koruptor itu mengalir, tidak pada apakah dia artis atau bukan.
"Buat kami tidak penting siapa yang menerima tapi ke mana mengalirnya. Kalau kemudian ke artis, (artis) itu bukan masalah kami, kami tak mau stigmatisasi dalam profile-profile tertentu," ujarnya.
"Tapi bahwa pejabat negara bicara revenue terlalu tinggi pasti mengalir ke sisi yang lain," imbuh Ivan.
(bal/fjp)











































