Tidak sedikit di antara kerumunan orang yang memadati loket maskapai itu tersulut emosi akibat lelah dan jengkel berkepanjangan mengurus refund. "Saya dari pagi nunggu di sini lho, penerbangan ke Malang. Payah nih mottonya saja yang 'Simple. On time. Convinient' tapi nyatanya nggak!," keluh bercampur kesal salah seorang calon penumpang kepada detikcom di lokasi, Jumat (14/2/2014).
Suara lain pun bersambar mengatakan kekecewaan dengan layanan Citilink yang dinilai lamban dan menggantungkan nasib para calon penumpangnya.
"Harusnya yang jelas dong Mas. Saya ini sudah ngikutin prosedur refund ini tanda tangan dan fotokopi KTP. Kenapa lama sih? Ini Citilink membernya Garuda tapi kok pelayanannya gini sih," ujar salah seorang penumpang tujuan Semarang yang batal terbang, Fajar.
Dia mengaku sangat kecewa sebab kejadian erupsi Gunung Kelud yang sudah menghebohkan Bumi Pertiwi sejak dini hari tadi harusnya membuat pihak manajemen Citilink aware. "Paling nggak SMS kek dari Call Center-nya atau memberikan pemberitahuan gitu lho dari pagi. Jadi kita nggak wasting time kan," lanjutnya.
Fajar juga mengungkapkan, sedikitnya jumlah petugas di loket yang berjumlah tiga orang itu tidak efektif dalam menangani massa. Menurutnya, maskapai nasional ini perlu memperbaiki lagi pelayanan di regionalnya agar bisa lebih dipandang oleh mata internasional.
Dari pantauan detikcom, hingga pukul 17.20 WIB di lokasi masih ada sekitar 25-35 orang antre mengurus refund. Mereka yang sudah mendapatkan refund, mengatakan pengembalian uang dari pihak Citilink setara dengan harga tiket yang dibelinya.
Rata-rata setiap orang membutuhkan waktu yang cukup panjang dari mulai pengajuan sampai namanya terpanggil oleh petugas loket. Bisa sekitar 2-3 jam. Mengapa demikian lama?
"Bagaimana nggak lama kalau yang ngurusnya saja cuma tiga orang dan satu loket doang yang buka. Ini kan nggak efektif," kata Fajar.
Sayangnya, detikcom sendiri tidak dapat berbincang dengan petugas di loket karena sibuk melayani penumpang. Sebagaimana diketahui, meletusnya Gunung Kelud mengakibatkan setidaknya lima bandara tutup.
Kelima bandara itu antara lain Bandara Adi Sutjipto di Yogyakarta, Bandara Juanda di Surabaya, Bandara Adi Sumarmo di Solo, Bandara Ahmad Yani di Semarang dan Bandara Abdurrahman Saleh di Malang.
(gah/gah)











































