Dalam buku "Usman dan Harun Prajurit Setia" yang ditulis sejarawan AL Lettu Laut Drs Murgiyanto yang diterbitkan Pustaka Bahari di bawah TNI AL pada tahun 1989, disebutkan Harun pernah jatuh cinta dengan gadis idaman bernama Nurlaila. Saat itu Harun berusia 21 tahun.
Harun dan Nurlaila berencana membangun rumah tangga suatu hari. Sebagai tanda janji kepada Nurlaila, Harun yang saat itu masih dikenal dengan nama Tohir memberikan cincin emas di jari manis Nurlaila. Hal itu dilakukan Harun tanpa sepengetahuan kakak Harun, Samsuri yang menggantikan ayahnya yang sudah meninggal.
Suatu hari, Harun mendengar gadis idaman yang sudah diberinya cincin emas itu melangsungkan perkawinan dengan pria yang sudah dipilihkan orang tua sang gadis. Harun merasa tersinggung dan saat Nurlaila dan calon suaminya menghadap penghulu, Harun dan kawan-kawannya tiba-tiba datang dan menghentikan acara pernikahan itu.
"Dengan nada marah-marah, ia bersikeras menghendaki agar upacara perkawinan itu dibatalkan," demikian ditulis dalam buku itu di halaman 4.
Penghulu yang kena damprat Harun itu berlari ke rumah kakak Harun, Samsuri yang kebetulan dekat dengan tempat upacara pernikahan yang dilangsungkan di Jalan Jember Lorong 61, Tanjung Priok. Penghulu itu lantas meminta tolong kakak Harun mencegah tindakan adiknya.
Samsuri lantas terpaksa turun tangan, dan saat itulah Samsuri baru mengetahui bahwa Harun bertunangan diam-diam dengan sang gadis. Akhirnya, Samsuri berhasil menenangkan Harun mengurungkan niatnya membatalkan pernikahan. Syaratnya, barang-barang perhiasan dan uang yang telah diberikan kepada Nurlaila dikembalikan.
"Sampai saat ini gadis tersebut masih hidup rukun dengan suami dan anaknya, di bilangan Tanjung Priok," tulis buku tersebut.
(nwk/asy)











































