"Sampai hari ini DPTLN (daftar pemilih tetap luar negeri) yang kami terima 2,25 juta. Seluruh penduduk atau WNI di luar negeri ada 4,7 juta, potensi pemilih yaitu yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah 2,2 juta," kata ketua Pokja PPLN Wahid Supriyadi.
Hal itu disampaikan di sela acara launching surat suara luar negeri di kantor PT. Gelora Aksara Pratama (Erlangga) Jalan H. Baping Raya No.100 Ciracas, Jakarta Timur, Rabu (11/2/2014).
"Ada 130 PPLN (panitia pemilihan luar negeri di 99 negara, jumlah TPS luar negeri 487 sementara dropbox 452," imbuhnya.
Menurutnya, warga negara Indonesia di luar negeri hanya memilih caleg DPR RI yang maju dari Dapil DKI II. Dapil ini meliputi Jakarta Selatan, Jakarta Pusat dan luar negeri.
Padahal, di dalam negeri masyarakat harus mencoblos caleg dari DPR RI, juga DPD RI dan DPRD Provinsi serta DPRD Kabupaten Kota.
Masalah inilah yang turut menyumbang tingkat partisipasi pemilih yang rendah, yaitu caleg yang diusung bukan perwakilan mereka. Selain faktor kondisi pekerjaan dan sulitnya waktu libur.
"Pemilu sebelumnya tahun 2009 memang tingkat partisipasi pemilih di luar negeri rendah hanya sekitar 23%," tuturnya.
"Ada banyak pertanyaan, saya tinggal diluar negeri tapi (memilih) untuk dapil Jakarta. Hal ini kita belum bisa dipecahakan selama 3 kali Pemilu," lanjut Wahid.
Oleh karena itu, Wahid mengatakan Diaspora Indonesia sudah mengusulkan agar luar negeri dengan pemilih 2,2 juta itu dibentuk dapil sendiri. Jika terwujud, maka WNI di luar negeri akan lebih merasa terwakili.
"Sudah usul ke MK, MK bilang masuk akal tapi tak bisa dilakukan sekarang, karena harus ubah Undang-undang. Dengan usul diaspora mudah-mudahan dapat caleg yang bisa mewakili," ucap Wahid.
(bal/van)











































