ADVERTISEMENT

Polemik KRI Usman Harun

Sebelum Gabung KKO AL, Harun Gemar Berpetualang Sejak Muda

- detikNews
Rabu, 12 Feb 2014 11:44 WIB
Jakarta - Sebelum bergabung dengan Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL), Harun alias Tohir sudah senang berkelana. Dia gemar menyusup kapal nelayan ikut melaut hingga merantau ke Singapura. Pengetahuan Harun atas kondisi Singapura ini dipakainya saat 'Operasi Dwikora'.

Dalam buku "Usman dan Harun Prajurit Setia" yang ditulis sejarawan AL Lettu Laut Drs Murgiyanto yang diterbitkan Pustaka Bahari di bawah TNI AL pada tahun 1989 menyebutkan bahwa saat SD Harun yang tumbuh besar di Pulau Bawean sudah tertarik dengan kerang-kerang laut yang terdampar di pantai daripada memperhatikan pelajaran di sekolah. Lama-lama dia tertarik dengan perahu nelayan, hingga sering meninggalkan bangku pelajaran untuk ikut berlayar mencari ikan dengan nelayan.

Setelah tamat SD, Harun sudah merantau ke Jakarta menamatkan SMP dan SMA hingga mendapatkan ijazah. Bagaimana dengan biaya sekolahnya? Ternyata Harun membiayai sekolah dengan menjadi pelayan di kapal dagang. Pelajaran yang tertinggal dia kejar melalui teman-temannya.

Nah, saat menjadi pelayan di kapal dagang ini, Harun ikut berlayar menjelajah berbagai negara termasuk Singapura, salah satu negara yang kerap dikunjunginya. Kadang-kadang menginap berhari-hari di Pelabuhan Singapura, ikut kapal rute Tanjung Pinang-Singapura, hingga menjelajahi daratannya sampai hafal benar.

Saat bergabung ke KKO AL pada Juni 1964 melalui jalur Sukarelawan ALRI dengan pangkat Prajurit KKO II (Prako II) dan mendapat gemblengan selama 5 bulan di Riau, pangkatnya, naik menjadi kopral pada tahun 1965. Selesai digembleng di Riau, Harun ditempatkan dalam sukarelawan tempur dan dikirim ke Pulau Sambu dan bergabung di Tim Brahma I Basis II A KOTI yang bertugas di wilayah Malaya.

Tim yang dipimpin Kapten Paulus Subekti itu tugasnya memang melakukan demolisi, sabotase pada obyek militer dan ekonomis, menyiapkan kantong gerilya, mengadakan propaganda, perang urat saraf, mengumpulkan informasi dan melakukan kontra intelijen.

Saat bertugas di tim ini, Harun alias Tohir berkenalan dengan Usman dan Gani bin Arup. Saat menyusup ke Singapura inilah pengetahuan Harun saat menjadi pelayan di kapal dagang digunakan. Tohir pun memakai nama samaran sesuai penduduk lokal Harun bin Said dan menyamar sebagai pedagang. Sedangkan Usman yang bernama asli Janatin mulai menggunakan nama samaran Usman bin Haji Muhammad Ali.




(nwk/mad)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT