Bagi seorang pejabat, blusukan bisa ditanggapi berbeda oleh pihak luar. Entah diartikan benar-benar bekerja keras atau pencitraan. Atau lebih parah diartikan lebay. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengaku merasakan 'aura' itu.
Berikut Kisah Walikota Risma seperti dihimpun detikcom, Rabu (12/2/2014):
1. Dituding Lebay
|
|
"Saya turun itu bukan sekadar turun. Saya menganalisa, kemudian langsung mencari jalan keluar. Nggak lebay," kata Risma tegas.
Mantan Kepala Bappeko Surabaya ini mencontohkan saat terjebak kemacetan di tol, dia sempat kalang kabut. Pejabat Dishub yang diteleponnya mengaku tidak tahu penyebab kemacetan. Lalu Risma turun meninggalkan mobil dan berjalan mencari alternatif.
"Saya sampai naik jembatan. Ternyata macetnya panjang," katanya.
Risma bertemu dengan polisi yang sedang patroli. Ia ikut mobil tersebut dan minta diturunkan di tempat pemberhentian taksi. Dari sana, ia kemudian mengatur lalin. Sesekali membentak pengguna jalan yang nekat akan menambah kemacetan.
2. 'Jin Pengawal'
|
|
"Saya disuruh pakai voorijder karena macet, saya bilang kalau macet ya saya benahi itu sudah risiko pemimpin. Pemimpin itu kalau mati ya matilah jadi pemimpin," kata Risma.
Risma lantas bicara soal tawaran dikawal pengawal pribadi dari kepolisian. Pengawal pribadi tersebut tidak berseragam alias sembunyi-sembunyi.
"Katanya adal walpri itu polisi ya, ndak kelihatan. Loh kalau nggak kelihatan jin," katanya memancing tawa seisi ruangan rapat lantai 3A Trans TV.
Risma pun memilih tak menggunakan walpri itu. Dia mempercayakan dikawal warga biasa bukan dari kepolisian.
"Itu kan uang nggak kelihatan," katanya.
3. Tak Berambisi Jadi Presiden
|
|
"Takdir saya jadi wali kota ya sudah saya full di situ. Saya tidak mau memikirkan yang lain," kata Risma.
"Ngurusin kota saja pusing apalagi kok presiden," celetuknya.
Risma mengaku melaksanakan tugas dengan tegas tanpa peduli hasil survei. Menurutnya, seorang pemimpin yang terlalu memantau hasil survei malah jadi tidak fokus.
"Saya murni mengerjakan tugas saya, tidak berpikir nanti kalau melakukan survei-survei saya jeblok saya. Saya full saya tidak mau memikirkan yang lain," kata Risma.
4. Isu Mundur
|
|
"Soal isu mundur ceritanya panjang sekali, jadi ini masalah prinsip dan karena saya seorang pemimpin maka saya harus memberikan contoh," kata Risma saat ditanya soal isu dirinya akan mundur karena polemik pengangkatan Wawali Surabaya Whisnu Sakti Buana.
Risma lantas bicara dirinya tak pernah berambisi meraih jabatan tertentu. Baginya jabatan adalah amanah dari Tuhan.
"Ini cuma titipan sewaktu-waktu saya bisa naik, sewaktu-waktu saya bisa turun," katanya.
5. Lahirkan Petani Kaya
|
|
"Ini petani semangka. Jadi kalau buah yang enak-enak disebut Bangkok, ada jambu Bangkok, nah ini saya bilang semangka Bangkingan, saya kasih nama sendiri," kata Risma sembari menunjuk slide show bergambar dirinya saat memanen buah semangka bersama warga Bangkingan Surabaya.
Risma menuturkan petani di Surabaya sukses. Banyak yang mampu membeli mobil untuk sarana transportasi mereka.
"Ada yang setiap minggu beli mobil. Jadi petani-petani kita itu petani cerdas," katanya.
Dia juga memberikan fasilitas broadband learning center di desa-desa. Petani di Surabaya pun bisa berchatting dengan petani di manca negara.
6. Atasi Pengemis di Surabaya
|
|
"Di Surabaya tidak ada pengemis, bisa dicek. Kalau ada yang ngemis saya tangkap, saya tega," kata Risma.
Risma punya alasan tak ingin Surabaya jadi kota dengan banyak pengemis. Menurutnya, Indonesia adalah negara besar dan harus menjaga kehormatan.
"Kita harus jadi negara terhormat, tidak boleh ada yang ngemis," katanya.
Karena itu para pengemis dipensiunkan. Risma memberikan pelatihan agar para pengemis bisa berkarya di bidang lain.
"Ada yang minta pelatihan saya beri pelatihan, jadi tidak ada lagi yang ngemis," katanya.
Halaman 2 dari 7










































