Bicara di kantor TransTV, Jalan Kapten Pierre Tendean Mampang Jakarta Selatan, Selasa (11/2/2014), Risma bercerita blak-blakan. Dia sering dituding lebay saat ikut turun mengatur lalu lintas, membersihkan sampah, atau memadamkan api. Bagaimana Risma menanggapi?
"Saya turun itu bukan sekadar turun. Saya menganalisa, kemudian langsung mencari jalan keluar. Nggak lebay," kata Risma tegas.
Mantan Kepala Bappeko Surabaya ini mencontohkan saat terjebak kemacetan di tol, dia sempat kalang kabut. Pejabat Dishub yang diteleponnya mengaku tidak tahu penyebab kemacetan. Lalu Risma turun meninggalkan mobil dan berjalan mencari alternatif.
"Saya sampai naik jembatan. Ternyata macetnya panjang," katanya.
Risma bertemu dengan polisi yang sedang patroli. Ia ikut mobil tersebut dan minta diturunkan di tempat pemberhentian taksi. Dari sana, ia kemudian mengatur lalin. Sesekali membentak pengguna jalan yang nekat akan menambah kemacetan.
"Akhirnya 2 jam kemudian arus lalu lintas terurai. Kalau tidak diatasi, bisa semalaman macet di situ," ungkapnya.
Perempuan berjilbab ini menambahkan saat terjadi kebakaran di sebuah gedung, ia mengaku berada di antara si jago merah dan memerintah petugas untuk meminimalisir dampak api. Meski petugas sesekali berteriak membantah, Risma tetap ngotot. Akhirnya api dapat dipadamkan. Gedung tidak sampai terbakar habis.
Banyak aksi nekat yang dilakukan Risma saat turun lapangan. Tapi sebagian diceritakan tidak utuh, hanya berupa penggalan kejadian. Alumnus ITS ini purna bercerita dan berdialog singkat karena harus memenuhi kegiatan lain.
(try/ndr)











































