Korban pelecehan seks oleh mantan general manajer sebuah media nasional tidak mendapat dukungan penuh dari kantornya. Korban yang merupakan bekas bawahan pelaku, bahkan harus bertahan di tengah-tengah situasi kantornya yang tidak kondusif sebagai dampak atas kasus tersebut.
Seperti diceritakan salah satu korban, kondisi psikisnya kembali terguncang ketika kasusnya dibahas dalam rapat departemen. Rapat tersebut digelar tanggal 30 Januari 2014 lalu.
"Di kantor, buat kami kerja jadi tidak nyaman karena banyak yang mencibir bahkan itu dibahas di saat meeting departemen," kata salah satu korban, kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (11/2/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tiba-tiba menyinggung masalah pelecehan seksual. Kalau tidak suka secara pribadi tolong jangan sampai menyudutkan, karena ngilangin trauma masih susah," ujarnya.
Korban yang saat itu mendengar pernyataan itu pun langsung meninggalkan ruangan rapat tersebut.
"Ketika meeting dibahas soal itu, saya mending ke luar. Dan saya hanya menangis di ruangan saya," ucapnya lirih.
Lima orang karyawati sebuah media nasional melaporkan F, yang saat itu menjadi atasan mereka. F dilaporkan atas tuduhan pelecehan seksual yang terjadi pada medio Juni-Juli 2013, di ruang kerja F di kantor media nasional itu.
(mei/ega)











































