Survei IFES dan LSI: Masyarakat Hati-hati Sikapi Berita Pemilu di TV

Survei IFES dan LSI: Masyarakat Hati-hati Sikapi Berita Pemilu di TV

Indah Mutiara Kami - detikNews
Selasa, 11 Feb 2014 17:47 WIB
Survei IFES dan LSI: Masyarakat Hati-hati Sikapi Berita Pemilu di TV
Jakarta - Tingkat partisipasi masyarakat dalam Pemilu 2014 bisa meningkat bila didukung dengan informasi yang akurat. Masyarakat kini lebih berhati-hati dalam menyikapi berbagai pemberitaan terkait Pemilu.

"Dari survei kami, iklan kampanye di TV mendorong masyarakat untuk berpartisipasi memilih. Kami mengakui bahwa TV dan media lainnya penting untuk memberi informasi pada pemilih. Tapi lebih dari 70% responden tenyata mengatakan bahwa info dari media harus disikapi hati hati. Mungkin karena beberapa media dimiliki oleh tokoh politik," kata Research Director IFES Rakesh Sharma di Grand Ballroom Kempinski, Jl. MH Thamrin, Jakpus, Selasa (12/2/2014).

Hal tersebut dipaparkan dalam rilis survei International Foundation for Electoral System (IFES) dengan menggandeng Lembaga Survei Indonesia (LSI) tentang "Persepsi Masyarakat Indonesia Menjelang Pemilu Legislatif 2014." Iklan kampanye di TV dianggap oleh 36% responden sebagai cara paling efektif untuk mendorong masyarakat berpartisipasi dalam Pemilu. Cara kedua yaitu dengan pertemuan informal seperti obrolan di warung kopi, arisan, dan lain-lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam survei tersebut, responden juga ditanyakan persetujuannya tentang pernyataan "Pemilih harus berhati-hati dalam menilai berita yang mereka baca, dengar, atau lihat di media massa." Hasilnya, sebanyak 15% sangat setuju dan 71% setuju.

Direktur Riset LSI Hendro Prasetyo yang juga hadir dalam acara tersebut menuturkan bahwa masyarakat Indonesia masih menunggu 'disuapi' informasi. Ia khawatir kurangnya pendidikan Pemilu bisa menuebabkan turunnya tingkat partisipasi pemilih.

"Kalau ingin memilih tapi informasi kurang, maka tingkat partisipasi akan menurun. Mereka yg tahu cara cek namanya di DPT, maka akan mengecek. Kalau orang banyak mengetahui maka akan lebih berpartisipasi. Sifat pemilih kita masih mendorong agar informasi yang diberikan itu sejelas-jelasnya. TV sebagai sumber informasi yang paling dipilih juga karena tinggal menyalakan," ujar Hendro.

Survei ini dilakukan dengan wawancara tatap muka pada 1.890 responden yang mewakili para pemilih di Indonesia yaitu usia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Responden berasal dari semua provinsi di Indonesia dan jumlah responden ditetapkan secara proporsional berdasarkan provinsi. Survei dilaksanakan pada 17-30 Desember 2013 dengan margin of error 2,3% dan tingkat kepercayaan 95%. Survei ini didanai oleh IRES sendiri.

Hasil lengkap survei tentang cara efektif untuk mendorong masyarakat berpartisipasi di Pemilu:

Iklan kampanye di TV 36%
Pertemuan informal (obrolan warung kopi, arisan, dll) 8%
Program talkshow di tv dan radio 8%
Debat dan dialog antar kandidat 8%
Penggunaan poster/bendera/banner 5%
Pertemuan keagamaan 5%
Penggunaan brosur/selebaran 3%
Iklan kampanye di media cetak 2%
Seminar 1%
Media sosial (facebook, twitter, dll) 1%
Lainnya 5%
Tidak tahu/Tidak jawab 9%

Hasil survei terkait persetujuan responden tentang pernyataan "Pemilih harus berhati-hati dalam menilai berita yang mereka baca, dengar, atau lihat di media massa."

Sangat setuju 15%
Setuju 71%
Tidak setuju 0%
Sangat tidak setuju 4%
Tidak tahu/tidak jawab 10%

(mad/mad)


Berita Terkait