"Abah pernah berpesan agar ketika meninggal dimakamkan secara Islami tanpa diacarakan upacara dinas-kepolisian," tutur Fitriani yang berjilbab dan cadar hitam ini.
Fitriani menuturkan, semasa ayahnya aktif di pengajian organisasi dakwah Wahdah Islamiyah dan juga aktif sebagai imam masjid Al Hambra, yang lokasinya tidak jauh dari rumah korban. Korban yang berdinas di bagian intelkam Polda Sulselbar ini di mata putrinya sebagai sosok yang saleh dan dermawan. Iptu Daud diketahui rutin berpuasa Senin-Kamis dan rajin salat witir dan salat tahajjud.
Terkait permintaan keluarga korban, Kabid Humas Polda Sulselbar Kombes Endi Sutendi yang ditemui di RS Bhayangkara menyebutkan Wakapolda Brigjen Ike Edwin akan melakukan pelepasan jenazah pada pihak keluarga di rumah duka di jalan Palantikang, Kel. Katangka, Kec. Somba Opu, Kab. Gowa.
Muhamad Daud adalah perwira pertama yang bertugas di Polda Sulselbar. Ia ditembak di dekat rumahnya saat akan berangkat ke masjid untuk salat subuh bersama rekannya, Jafar. Lokasi penembakan berjarak sekitar 3 meter dari kediaman korban, di Palantikang, Gowa, Sulsel.
Hingga saat ini belum diketahui pelaku dan motif penembakan. Polisi memeriksa Jafar dan pemilik rumah tempat orang tak dikenal menembak korban.
(mna/trw)











































