Putri korban penembakan Iptu Muhammad Daud (54), Nurfitriani (20), mengaku semasa hidup ayahnya pernah berpesan agar dimakamkan tidak perlu dengan acara dinas-kepolisian. Hal ini disampaikan Fitriani saat ditemui detikcom di depan kamar jenazah RS Bhayangkara Polda Sulselbar, Makassar, Selasa (11/2/2014).
"Abah pernah berpesan agar ketika meninggal dimakamkan secara Islami tanpa diacarakan upacara dinas-kepolisian," tutur Fitriani yang berjilbab dan cadar hitam ini.
Fitriani menuturkan, semasa ayahnya aktif di pengajian organisasi dakwah Wahdah Islamiyah dan juga aktif sebagai imam masjid Al Hambra, yang lokasinya tidak jauh dari rumah korban. Korban yang berdinas di bagian intelkam Polda Sulselbar ini di mata putrinya sebagai sosok yang saleh dan dermawan. Iptu Daud diketahui rutin berpuasa Senin-Kamis dan rajin salat witir dan salat tahajjud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Muhamad Daud adalah perwira pertama yang bertugas di Polda Sulselbar. Ia ditembak di dekat rumahnya saat akan berangkat ke masjid untuk salat subuh bersama rekannya, Jafar. Lokasi penembakan berjarak sekitar 3 meter dari kediaman korban, di Palantikang, Gowa, Sulsel.
Hingga saat ini belum diketahui pelaku dan motif penembakan. Polisi memeriksa Jafar dan pemilik rumah tempat orang tak dikenal menembak korban.
(mna/trw)











































