"Saya belum dengar ada hal seperti itu dan belum ada yang nanya ke saya. Sebagai kader partai ya Insya Allah, PDIP diberi kesempatan untuk menang," kata Puan kepada wartawan di Gedung DPR RI, Senayan, Jakpus, Senin (10/2/2014).
Bagaimana bila Golkar benar-benar datang dan meminta Puan menjadi cawapres Ical?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menilai bahwa keputusan untuk menjadi capres atau cawapres bukan hanya berasal dari kesiapan pribadi. Banyak mekanisme yang harus dilalui agar seseorang bisa atau mau menjadi calon.
Menurut Puan, langkah Golkar yang melirik kader partai lain adalah hal yang biasa dan bukan untuk memecah-belah PDIP. Justru bila suatu partai tidak melakukan dinamika politik dengan mendekati calon dari partai lain, itu akan menjadi hal yang membingungkan.
"Kalau nyari yang tidak populer atau tidak punya potensi kan aneh. Ini hal biasa," ujar wanita yang juga menjabat sebagai Ketua DPP PDIP ini.
Saat ini Ical tengah bergerilya ke daerah untuk mencari tahu keinginan publik terkait sosok yang pantas mendampinginya dalam Pilpres. Sederet nama tokoh yang diusulkan menjadi Cawapres saat ini tengah digodok pengurus partai.
"Pak ARB (Aburizal Bakrie) terus terang saja saat ini berada di Jawa Tengah, mengecek kepada masyarakat. Urusan (Cawapres) itu tergantung masyarakat," kata Sekjen Partai Golkar Idrus Marham kepada wartawan usai pembekalan kader dan caleg Golkar Kaltim di Ruang Melati Hotel Mesra Internasional, Jl Pahlawan, Samarinda, Minggu (9/2/2014).
Idrus menerangkan, nama Mahfud MD, Pramono Edhi hingga Puan Maharani, masuk bursa Cawapres Ical. Bahkan nama Jokowi pun disebut Idrus juga masuk bursa Cawapres.
"Banyak sekali nama-nama masuk yang diusulkan oleh DPD Golkar di daerah juga atas usulan masyarakat terhadap partai. Antara lain ada Pramono Edhie, Mahfud MD, Soekarwo, Prabowo Subianto, Jokowi, Irman Gusman, Khafifah juga Puan Maharani. Banyak sekali," terang Idrus.
(van/nrl)










































