Jangan Pilih Caleg yang 'Jual Diri' Memaku Pohon

Pelanggaran Kampanye 2014

Jangan Pilih Caleg yang 'Jual Diri' Memaku Pohon

Idham Khalid - detikNews
Senin, 10 Feb 2014 12:23 WIB
Jangan Pilih Caleg yang Jual Diri Memaku Pohon
Brury Susanto/detikFoto.
Jakarta -

Wajah Eka, 40, tampak mengernyit ketika mengetahui tembok pagar rumahnya ditempeli poster calon legislator yang bertarung di pemilihan umum tahun ini.

Raut kekesalan tampak makin kentara ketika ia mengetahui pohon-pohon di dekat rumahnya banyak dipasangi berbagai atribut caleg dan partai politik. "Ngerusak lingkungan sama pemandangan ini. Seenaknya saja main pasang sembarangan," kata Eka dengan nada ketus.

Para caleg dan parpol yang memasang alat peraga di pepohonan sudah menjadi fenomena. Tidak hanya sekadar dipasang, alat peraga yang berupa spanduk, baliho, dan lainnya ini dipasang dan dipaku ke pohon.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemandangan seperti ini selalu terulang. Tidak hanya disetiap momen pemilihan umum, tapi juga pada pemilihan kepala daerah. Hampir ada di setiap daerah di Indonesia.

Aktivis lingkungan dan mantan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Berry N Furqon menilai, fenomena ini menunjukkan rendahnya kesadaran dan kepedulian para caleg dan parpol terhadap lingkungan.

"Parpol membiarkan calegnya atau parpolnya juga memasang alat peraga dipohon-pohon bahkan dipaku,” ujarnya kepada detikcom, Jumat (07/02/2014).

Mestinya, Berry menegaskan, karena sudah melanggar, ada tindakan tegas dari Panitia Pengawas Pemilu untuk mencabut dan menertibkan seluruh alat peraga yang dipasang di pohon. "Selalu berulangnya fenomena ini menunjukkan bahwa Panwaslu belum pernah tegas terhadap hal ini."

Berry, yang menjabat Direktur Eksekutif Walhi periode 2008-2012 ini, menekankan pelanggaran tersebut harusnya menjadi alat ukur atau penilaian dari publik terhadap caleg dan parpol tersebut. Artinya, masyarakat bisa melihat lebih jauh bahwa mereka ini sebenarnya tidak peduli terhadap lingkungan.
 
"Bisa dijadikan dasar untuk menentukan pilihan. Sebaiknya tidak dipilih. Jadi publik menghukumnya secara langsung,” ujar Berry mengingatkan. "Dengan kondisi ini, saya mendorong ada penghukuman publik. Jangan dipilih."

Menurutnya kalau publik yang menghukum maka akan mendapatkan efek jera yang luar biasa bagi yang melanggar. "Ini terus terjadi dan terus terulang. Kalau Panwaslunya tidak terlalu tegas, saya berharap publik yang menghukum, jangan dipilih lagi," Berry kembali menegaskan.

Berry menggarisbawahi, perbaikan lingkungan harus dimulai dari perbaikan terhadap penegakan aturan-aturan yang ada. Sebab, pemilu merupakan mata rantai dari keputusan-keputusan strategis. “Perbaikan lingkungan dimulai dari perbaikan kualitas pemilu,” kata dia.

(brn/brn)


Berita Terkait