"Golkar pengalaman soal kasus korupsi, sudah sering kadernya terlibat. Tetapi Golkar di sisi lain juga telah menyentuh rakyat banyak. Sementara PDIP kan tahu sendiri kita banyak 'orang-orang kost-kostan' yang masuk ke situ. Jadi walaupun ada kader yang terlibat korupsi tapi juga punya stok kader yang lain," ujar Asep saat menelaah survei PolcoMM di Hotel Whiz Cikini, Jl. Cikini Raya 6, Jakarta Pusat, Minggu (9/2/2014).
Sementara itu sikap adaptif ditunjukan oleh Golkar dan PDIP ketika memilih untuk mengamati terlebih dahulu sebelum melontarkan komentar. Kedua partai ini pun memiliki figur yang mampu menyelesaikan konflik atau krisis yang dialami partainya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu PD dan PKS dinilai terlalu reaktif menghadapi krisis. Padahal kedua partai ini mengaku berplatform nasionalis dan religius.
"PD, itu kan oportunis. Tokohnya juga banyak dari HMI. Iklannya di mana-mana 'katakan tidak pada korupsi', tapi bintang iklannya hampir semua sudah kena. Kalau PKS bilang partai agama, tapi presiden partainya kena juga kasus sapi. Bagaimana publik mau percaya kalau mereka menghadapi krisis dengan reaktif?" tutur Asep.
Mantan hakim agung itu pun menyebut kalau masyarakat cenderung percaya kepada figur ketimbang parpol. Masyarakat kemudian memiliki keberanian untuk melawan partai.
"Rakyat sekarang ini punya keberanian untuk melawan partai korup. Yaitu dengan golput, padahal golput itu bukan solusi. Mau cuma 10% yang milih di Pemilu, tetap sah partai itu menang Pemilu. Makanya orang melihat figur kalau mau milih, bukan partainya. Figur itu seperti Jokowi misalnya, kalau kader murni partai itu ya kayak Nazaruddin. Makanya PDIP dibilang adaptif karena punya figur," ujar dia.
(bag/mad)











































