Dalam survei yang dilakukan Pusat Kajian Pancasila Hukum dan Demokrasi Universitas Negeri Semarang (PUSKAPDHEM UNNES), 71 persen dari 1070 responden di 34 provinsi memilih kriteria pemimpin yang berani mengambil resiko.
"71,58 persen menyukai pemimpin yang berani mengambil risiko. 20,46 persen tidak suka dan 7,96 persen tidak tahu," ujar Direktur Eksekutif PUSKAPDHEM UNNES, Arif Hidayat, saat pemaparan hasil surveinya di Hotel Grand Melia, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (9/2/2014).
Selain itu, menurut Arif, sebanyak 88,78 persen responden tidak suka dengan pemimpin yang mudah galau. Sementara 5,32 persen tidak suka dan 5,95 persen tidak tahu.
"Publik menyukai pemimpin yang tegas dalam mengambil keputusan. Artinya memori publik tak dapat direkayasa, sambungnya.
Dalam survei yang memakai teknik wawancara dan kuisioner ini, 35,52 persen publik menilai sangat penting adanya regenerasi kepemimpinan nasional. Sementara 50,5 persen menyatakan penting, 1,12 persen menilai kurang penting 4,2 persen tidak penting, dan 7,28 persen tidak tahu.
"Penting bahwa kepemimpinan itu harus ada regenerasi. Dalam hal ini kita sadar bahwa puleg dan pilpres kesannya menjemukan karena menu yang disodorkan itu-itu saja, masyatakat haus akan tokoh baru yang akan memberikan pembaruan di ranah politik," paparnya.
(rni/mad)











































