Eep: Kekalahan Masdar Pelajaran Bagi Gus Dur
Kamis, 02 Des 2004 18:27 WIB
Jakarta - Pengamat politik dari UI Eep Saefullah Fatah menilai kekalahan kubu Abdurrahman Wahid atau sering disebut Gus Dur dalam muktamar NU ke-31 di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah harus menjadi pelajaran bagi Gus Dur."Kalahnya Gus Dur ini pelajaran penting, tak hanya bagi warga NU, kiai, juga bagi Gus Dur. Biar Gus Dur lebih rasional," ujar Eep Saefullah di Hotel Sahid, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (2/12/2004).Dalam Muktamar NU di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Solo, kubu Gus Dur kalah telak melawan kubu Hasyim Muzadi. Masdar yang didukung Gus Dur mendapatkan 99 suara, sedangkan Hasyim Muzadi 364 suara.Dengan kekalahan tersebut, lanjut Eep, yang harus disadari Gus Dur dan Masdar adalah agar tidak melakukan kudeta kultural.Selain itu, persoalan Gus Dur adalah pada dirinya sendiri. "Ada pertentangan antara Gus Dur dengan gagasan-gagasan besarnya dengan Gus Dur yang menjalankan langkah-langkah politiknya. Pecundang yang baik adalah pemimpin yang baik. Karena bagian dari demokrasi adalah siap menerima kekalahan. Hasyim Muzadi juga jangan lantas berjingkrak-jingkrak atas kemenangannya. Dia harus menjadi pemenang yang baik dengan mengakomodir yang kalah," tambah Eep panjang lebar.Dengan kemenangan Hasyim, lanjutnya, berarti membuktikan salah satu bagian penting yang dikerjakan Hasyim sebagai Ketua Umum NU memperkuat kakinya. Seperti yang dilakukan ketua partai pada umumnya, yaitu keuntungan pejabat yang masih berkuasa."Tidak ada tokoh lain di NU yang mempunyai basis kekuatan seperti Pak Hasyim. Kesempatan dia sebagai ketua umum sangat terbuka. Itu konsekuensi logis," imbuh Eep.Masalah NU, menurut Eep, antara lain krisis kepemimpinan. . Terbukti tak ada pesaing Hasyin yang mempunyai kekuatan kompetensi politik yang cukup. Ada masalah yang lebih serius, yaitu lunturnya otoritas tradisional dan patrimonial. "Dulu kiai mengatakan A, santri bilang A. Gus Dur bilang B, semua orang bilang B. Kesimpulanya muktamar kali ini agar NU lebih instropeksi jauh lebih serius," katanya.Persoalan lainnya, menurut Eep, masa depan Hasyinm Muzadi yang masuk politik praktis itu harus dibicarakn dan diselesaikan kalangan NU. Karena sampai sekarang politik praktis masih perdebatan. Harus ada rumusan yang jelas sampai tingkat operasional yang mendefinisikan NU kultural atau bukan dan bukan gerakan politik. "Itu PR yang penting untuk NU," kata Eep.Agenda NU yang penting selain rumusan khittah adalah mendefinisikan hubungan NU dengan PKB. Ada kesepakatan tak tertulis, NU adalah PKB dan PKB adalah NU. Artinya ada rumusan yang salah. Tak sehat bila mengatakan orang NU harus PKB dan sebaliknya.Dengan kemenangan Hasyim berarti memodernkan PKB dan mendewasakan NU. Karena parpol sebaiknya tak ditandai dengan karakter mobilisasi. "Orang NU memobilisasi massa PKB artinya sama dengan PKB. Karena ciri partai modern adalah partisipasif tak oligarki. PKB memungkinkan partai paling oligarkhi. Maka pisahkan NU menjadi organisasi yang utuh dan PKB menjadi organisasi politik yang memuat gagasan nahdliyin.
(jon/)











































