"Pelaku tidak balas dendam dan sakit hati. Awalnya hanya pencurian tapi karena kepergok, langsung menghabisi korban," ujar Kasat Reskrim AKBP Tatan Dirsan Atmaja.
Hal itu dikatakan AKBP Tatan dalam jumpa pers di Polres Jakpus, Jl Kramat Raya, Jumat (7/2/2014). Dalam jumpa pers itu, Diki dihadirkan. Dia mengenakan baju tahanan berwarna merah. Wajahnya selalu menunduk.
Menurut Tatan, Diki sudah bekerja di 6 tempat. Setiap bekerja maksimal 7 hari, Diki selalu mencuri.
"Setiap bekerja selama 5-7 hari harus pulang bawa hasil berapa pun itu," ucap Tatan.
Polisi berhasil menangkap Diki dari baju milik Diki yang ditinggal di rumah korban. Diki sempat ganti baju di rumah Adika lalu kabur dengan naik bus ke Cililitan. Di Cililitan, Diki ganti baju lagi dan lari ke Tanjung Priok lalu ke Lebak, Banten.
Setelah mencuri, Diki pulang ke Lebak, Banten selama sekitar 1-2 bulan. Setelah itu dia kembali bekerja lagi ke Jakarta untuk mencuri dan mendapatkan uang.
Sementara itu soal adanya 16 luka tusukan di tubuh Adika, menurut Tatan, Diki mengaku hanya menusuk korban 8 kali.
Selain mengamankan Diki, polisi menyita barang bukti berupa 1 buah kotak ponsel, 1 buah palu bergagang plastik warna hitam dan oranye, celana jins, selendang warna merah punya korban, kemeja celana panjang abu-abu, kaos warna merah, cincin emas 2 gram dan kalung emas 20 gram.
Adika tewas bersimbah darah di rumahnya di kawasan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, pada Senin (3/2/2014) lalu. Sedangkan Diki merupakan karyawan Adika yang baru 10 hari bekerja.
Diki ditangkap polisi pada Kamis (6/2/2014) kemarin. Dia ditangkap di rumahnya di Lebak, Banten. Saat ditangkap, Diki tidak melawan. Di rumah tersebut, Diki bersama istrinya yang telah melahirkan anak perempuan.
(nwy/nwk)











































