PBB Tolak Desakan Mundur bagi Kofi Annan
Kamis, 02 Des 2004 16:37 WIB
Jakarta - Negara-negara anggota badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menolak desakan mundur bagi Sekjen PBB Kofi Annan. Dukungan terhadap Annan disampaikan menyusul desakan seorang senator AS agar Annan mengundurkan diri dari jabatannya, sehubungan dengan dugaan penyelewengan dalam program minyak-untuk-pangan Irak (oil-for-food program).Senator AS, Norm Coleman menulis di Wall Street Journal edisi Rabu (1/12/2004) bahwa Annan hendaknya mengundurkan diri karena "penipuan paling besar dalam sejarah PBB terjadi di bawah pengawasannya." Coleman merupakan pimpinan salah satu dari lima investigasi kongres AS atas program oil-for-food PBB.Namun sejumlah negara anggota PBB menyuarakan dukungan mereka kepada Annan. Negara-negara termasuk Rusia, Inggris, Chili, Spanyol dan negara-negara Afrika mendukung Annan untuk terus menjabat sebagai pemimpin badan dunia PBB."Dia belum mendengar seruan mundur dari salah satu negara anggota," ujar juru bicara PBB Fred Eckhard kepada wartawan di New York ketika ditanyai mengenai kemungkinan mundurnya Annan, seperti dilansir AP, Kamis (2/12/2004). "Jika ada kemarahan mengenai isu ini... itu perdebatan yang sehat. Namun dia (Annan) berniat untuk melanjutkan pekerjaan substantif selama sisa masa jabatan dua tahun satu bulan ini," imbuhnya.Dugaan adanya korupsi dalam program oil-for-food pertama kali merebak pada Januari lalu. Namun belakangan rumor tersebut makin santer dan terus menyudutkan Annan. Terlebih sejak terungkapnya keterlibatan putranya, seorang pengusaha muda, Kojo Annan dalam program tersebut.Beberapa hari lalu, Annan mengatakan dirinya "sangat kecewa dan terkejut" karena putranya itu menerima pembayaran hingga Februari 2004 dari sebuah perusahaan yang memiliki kontrak dengan program oil-for-food. Pihak Cotecna Inspection S.A., yang berbasis di Swiss menyatakan, Kojo dibayar US$ 2.500 per bulan supaya ia tidak bekerja dengan kompetitor setelah dirinya keluar dari perusahaan tersebut pada tahun 1998.Annan mengakui hal itu bisa mendatangkan tuduhan yang tidak-tidak bagi PBB. Namun ditegaskan Annan bahwa dirinya tidak pernah terlibat dalam penyerahan kontrak ke Cotecna atau pihak manapun juga.Program oil-for-food yang dimulai sejak 1996 silam, mengizinkan Irak untuk menjual minyaknya di bawah pengawasan PBB. Hasil penjualan digunakan untuk membeli bahan pangan, obat-obatan dan kebutuhan lain. Saat itu, Irak yang dipimpin Saddam Hussein tengah dikenai sanksi ekonomi PBB yang berat.
(ita/)











































