Setelah Perempuan Cantik Diperkosa, India Berubah

Pemerkosaan di India

Setelah Perempuan Cantik Diperkosa, India Berubah

- detikNews
Kamis, 06 Feb 2014 15:47 WIB
Setelah Perempuan Cantik Diperkosa, India Berubah
Foto Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta - India memang dikenal sebagai Negara yang masih kental diskriminasi pada perempuan. Perkosaan diduga sangat banyak terjadi namun jarang terungkap. Kejadian di salah satu sudut New Delhi pada malam 16 Desember 2012 lalu mengingatkan luka yang serupa di lokasi yang sama, empat dekade silam.

Ketika itu Mathura, seorang korban perkosaan, memilih mencari keadilan hukum daripada bungkam. Dia mengadukan pemerkosaan yang dilakukan dua anggota polisi justru ketika ia ingin meminta perlindungan ke kantor penegak hukum itu.

Luka lama itu sebenarnya tak ingin dibuka lagi baik oleh Mathura maupun keluarganya. Namun, peritiwa mengerikan yang menimpa Jyoti alias Nirbhaya, tak bisa membuat Motiram Mesharm, -warga setempat- untuk diam selamanya.





“(pemerkosaan) Itu pernah terjadi juga di sini. Empat puluh tahun yang lalu,” kata dia, seperti dikutip CNN. Tetapi saat itu tak ada orang yang mendengarkan atau menindaklanjuti kasus tersebut.

Motiram mengaku sudah mengenal Mathura sejak masa kanak-kanak. Dia menjadi saksi mata ketika sahabat itu dipecundangi oleh dua polisi di ruang kerja mereka. Ketika itu usianya baru 14 atau 16 tahun.

Mathura yang yatim piatu terbiasa kerja keras. Dia pernah menjadi pembatu rumah tangga. Tapi gadis cantik nan rupawan, berkulit cerah itu juga tak sungkan mengumpulkan kotoran sapi untuk dijual.

Cerita tentang Mathura itu menjadi potret betapa kekerasan terhadap wanita bukanlah masalah besar di India. Justru korban-korban kekerasan yang ingin mendapat keadilan dituduh mengada-ada. Kasus Mathura juga jadi cikal bakal di mana korban pemerkosaan diproses secara tertutup, dilarang mengidentifikasi dengan nama asli.

Secara kolektif, perempuan bisa dibilang korban tradisi patriarki yang mengakar di masyarakat. Suatu jajak pendapat yang digelar UNICEF pada 2012 lalu menunjukkan mayoritas remaja putra dan remaja putri di India menilai suami berhak memukul istri mereka.

Itu sebabnya kebanyakan perempuan memilih diam dan mengingkari diri sendiri ketika jadi korban kekerasan. Mereka enggan melapor karena takut bikin malu keluarga, atau karena ketidakpercayaan bahwa polisi dan pengadilan akan memproses kasusnya.

Namun, sejak terungkapnya kasus yang menimpa Nirbhaya, India menjadi sorotan dunia dan membuka mata warganya. Kebrutalan yang sangat sadis itu menyulut amarah dan menimbulkan rasa mawas diri.

Ratusan ribu orang turun ke jalan, berdemo menuntut pemerintah memperberat hukuman para pelaku pemerkosaan dan memperbaiki kebijakan dan mengubah perilaku budaya.

Kaum hawa juga sudah lebih berani melaporkan kasus kekerasan seksual yang menimpa mereka. Itu sebabnya hampir tiap minggu media di India memuat kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan di seantero negeri.

Kebanyakan kasus itu melibatkan banyak pria (geng), dan berujung pada kematian. Faktanya, tiap 20 menit, satu wanita diperkosa di India. Selain Mathura dan Nirbhaya, kasus perkosaan yang juga jadi sorotan media yakni yang menimpa seorang remaja 16 tahun. Dia diperkosa beramai-ramai oleh beberapa pria selama dua hari berturut-turut pada 25 dan 26 Oktober lalu.

Sayangnya, laporannya ke polisi tidak ditindaklanjuti. Pelaku pemerkosaan tidak ditahan oleh polisi. Bahkan hingga ia meninggal di rumahsakit karena luka bakar pada malam tahun baru lalu, tak ada satu pun pelaku yang ditahan.

Ironinya, remaja malang itu diduga sempat hamil. Polisi menduga ia bunuh diri, meski menurut keluarganya kebakaran itu adalah ulah pemerkosanya yang mengancam agar korban menarik laporannya.

(ros/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads