Dari Jerman Hingga Irian Barat

Nekrologi Pangeran Bernhard

Dari Jerman Hingga Irian Barat

- detikNews
Kamis, 02 Des 2004 15:31 WIB
Dari Jerman Hingga Irian Barat
Den Haag - Ia orang Jerman yang kelak ikut menjadi arsitek melawan Jerman. Selama krisis Irian Barat, ia secara rahasia menemui Soekarno.Menurut data Rijkvoorlichtingsdienst (RVD) atau Dinas Penerangan Kerajaan, Pangeran Bernhard dilahirkan pada 29/6/1911 di Jena, Jerman. Ia anak laki-laki pertama pasangan Pangeran Bernhard von Lippe dan Barones Armgard von Sierstorpff-Cramm. Masa kanak-kanaknya ia lewati di Reckenwalde, Prusia Timur (kini Woynowo, Polandia). Pendidikan dasarnya ia jalani di rumah. Baru pada usia 12 tahun ia tinggal di internaat (asrama) di Zullichau, kemudian menjalani SMA-nya dengan indekos di Berlin. Bernhard lalu memilih studi hukum pada Universitas Munchen. Setelah tamat (1935), ia bekerja pada perusahaan kimia I.G. Farben. Selewat masa percobaan, dia diangkat sebagai sekretaris direktur di cabang I.G Farben di Paris. Jabatan ini dipegang Bernhard hingga pada 8/9/1936 ia bertunangan dengan Puteri Mahkota Juliana, calon penerus tahta Kerajaan Belanda. Pada 27/11 tahun yang sama, ia mendapat status warga negara Belanda.Tak sampai dua bulan, tepatnya 7/1/1937 Bernhard resmi menikahi Puteri Mahkota Juliana. Ia mendapat gelar Prins der Nederlanden dan diangkat menjadi ajudan luarbiasa Ratu Wilhelmina, ibunda dari Juliana. Bernhard-Juliana dikaruniai 4 orang anak: Puteri Beatrix (1938), Puteri Irene (1939), Puteri Margriet (1943) dan Puteri Christina (1947). Sebagai anak pertama, Beatrix kini yang menjadi Ratu, meneruskan tahta dinasti Oranje.Sejak menikah hingga akhir hayat, pasangan Bernhard-Juliana memilih menetap di istana Soestdijk, 90 km dari Den Haag ke arah Timur Laut, tak jauh dari Hilversum. Juliana mangkat terlebih dulu pada 20/3/2004 lalu dan Bernhard 1/12/2004 atau Kamis (2/12/2004) dinihari tadi.Pada saat Nazi Jerman menyerbu Belanda, Bernhard-Juliana bersama seluruh keluarga Ratu Wilhelmina dan kabinetnya menyelamatkan diri ke London, Inggris, pada 10/5/1940. Sebulan kemudian, sang istri Juliana dan anak-anaknya -karena pertimbangan keamanan- diungsikan ke Ottawa, Kanada. Menjauh dari titik perang. Bernhard sendiri tetap di London (1940-1945) dan sesekali mengunjungi sang istri Puteri Mahkota Juliana dan anak-anaknya. Di London ia merekonstruksi angkatan perang Belanda yang buyar dihajar Nazi Jerman. Ia antara lain membentuk unsur Belanda dalam angkatan perang Inggris Royal Air Force (RAF), untuk bersama sekutu menyerang Jerman. Ratu Wilhelmina lalu mengangkat dia sebagai Panglima Angkatan Perang Kerajaan Belanda pada 3/9/1944 dengan pangkat rangkap Letnan Jenderal plus Deputi Laksamana dan sesuai jabatannya ia ikut dalam perundingan kapitulasi Nazi Jerman pada Mei 1945 di Wageningen. Atas jasa-jasanya selama Perang Dunia (PD) II itulah Bernhard -meskipun tidak pernah bertempur di front- mendapat berbagai bintang tanda jasa. Pada 1946 ia dianugerahi bintang jasa tertinggi Commandeurskruis der Militaire Willemsorde. Ia juga mendapat bintang jasa dari Inggris, Amerika dan Prancis.Setelah Perang Dunia II usai, Bernhard yang juga memiliki pangkat di Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL), berniat untuk bergabung dan memimpin perebutan kembali Nederlands-Indie (Indonesia), yang telah diproklamirkan Soekarno-Hatta. Namun sang mertua, Ratu Wilhelmina, mencegah niat Bernhard tersebut. Salah satu perwira stafnya, Kapten Raymond Westerling, kelak muncul sebagai perwira dengan tangan berlumuran darah, akibat aksi pembantaian selama operasi 'mengembalikan Indonesia ke pangkuan Belanda'. Selama periode berdarah itu, Westerling memimpin Korps Speciale Troepen (Korps Pasukan Khusus).Keterkaitan Bernhard dengan Indonesia bukan hanya itu. Ia juga pernah melakukan pertemuan rahasia dengan presiden Soekarno ketika memuncak krisis RI-Belanda soal Nieuw Guinea atau Irian Barat. Selama krisis tersebut, Bernhard ternyata memihak dan setuju agar Irian Barat diserahkan kepada Indonesia. Sikap ini kemungkinan dipengaruhi visi Bernhard sebagai ketua kelompok Bilderberg untuk membangun kembali ekonomi Belanda yang morat-marit akibat PD II.Segera setelah Soekarno tumbang dan digantikan Soeharto, Bernhard bersama Ratu Juliana melakukan kunjungan ke Indonesia pada 1971. Ini sebagai kunjungan balasan Soeharto ke Belanda pada 31/8/1970, sebuah kunjungan yang terbilang tidak sukses karena diwarnai aksi serangan RMS, antara lain di Wisma Duta RI di Wassenaar. Sampai akhir hayatnya, Bernhard -yang mungkin tak banyak orang tahu- menjadi ayah angkat bagi orangutan-orangutan Kalimantan dan badak Sumatera. Ia menaruh perhatian besar bagi kelestarian alam di kedua pulau tersebut.Foto: Pangeran Bernhard, sumber: Rijkvoorlichtingsdienst/Dinas Penerangan Kerajaan. (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads