"Secara kualitas memang debat ini ada peningkatan dari sebelumnya. Tapi pertanyaan yang dimunculkan kurang memunculkan perbedaan pandangan," ujar Anies usai debat di Hotel Harris, Jalan Peta, Rabu (5/2/2014).
Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan yang ada kebanyakan dijawab dengan kesamaan pandangan yang mirip satu sama lain.
"Menurut saya, harusnya dimunculkan pertanyaan yang lebih relevan. Yang lebih memancing perbedaan. Bukan untuk saling menjatuhkan, tapi supaya terlihat perbedaannya diantara para capres ini," katanya.
Filosofi Angklung
Para pendukung Anies yang kebanyakan anak muda tampil dengan membawa alat musik angklung. Mereka mengiringi Anis keluar dari convention hall. Dalam salah satu termin debat, Anies pun sempat menyinggung soal konsep kepemimpinan dengan mengambil filosofi angklung.
"Kepempimpinan itu jangan seperti pemain piano ato gitar, tapi harus seperti angklung," kata Anies.
Karena menurutnya, pemain piano atau gitar tampil sendiri mempesona para penonton. Sementara angklung, banyak yang bergerak dan menciptakan harmoni alunan musik.
"Pesannya, satu orang satu nada. Pemimpin adalah dirigen yang menyatukan. Semua bergerak. Itu seninya," tuturnya.
Anis mengatakan, konsep pemimpin melayani rakyat adalah model kuno.
"Yang melayani adalah birokrasi, pemimpin itu yang menggerakkan. Karena tidak mungkin 1 orang (pemimpin) melayani ratusan juta rakyat," tutupnya.
(tya/fdn)











































