Gagalnya Rekayasa Cuaca

Membuang Duit Rp 20 Miliar dari Langit

- detikNews
Rabu, 05 Feb 2014 14:22 WIB
Proses teknologi modifikasi cuaca. (Foto : BPPT)
Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi bencana banjir. Salah satunya meminta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBPT) untuk merekayasa cuaca.

Namun modifikasi cuaca dengan anggaran Rp 20 miliar itu dinilai belum optimal. Terbukti hujan lebat tetap terus mengguyur dan membuat banjir merendam sejumlah besar kawasan ibu kota dan sekitarnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun mengkritik alasan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Hujan Buatan BPPT yang belum maksimal dalam merekayasa cuaca.

"Seharusnya UPT Hujan Buatan BPPT tetap fokus pada teknologi modifikasi cuaca. Sebab, banjir Jakarta merupakan masalah yang kompleks," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho saat dihubungi detikcom, Rabu (05/02/2014).



Kepala UPT Hujan Buatan BPPT, F. Heru Widodo, mengakui tidak maksimalnya modifikasi cuaca pada musim hujan awal tahun sehingga intensitas hujan di wilayah Jakarta dan sekitarnya tetap tinggi dan banjir terjadi di mana-mana.

Namun ia menekankan rekayasa cuaca ini juga jangan dianggap sebagai andalan untuk membantu persoalan banjir di ibu kota. Dia mengatakan upaya di dataran bawah juga harus diselesaikan.

Beberapa poin yang disinggungnya seperti normalisasi sungai, waduk, dan drainase. “Kalau cuma mengandalkan awan diakalin ya susah. Yang di bawah (daratan) juga harus diprioritaskan juga,” ujarnya kepada detikcom, Senin (03/02/2014).

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Andi Eka Sakya menyebutkan proses pertumbuhan awan hujan memang meningkat di kawasan Jakarta dan sekitarnya.

Dalam kondisi ini, kata dia, dibutuhkan upaya yang lebih besar untuk memodifikasi cuaca, termasuk perlu memperhitungkan armada pesawat penyemai bahan garam.

Dia menjelaskan pada 17 Januari lalu memang awannya massif sekali sehingga dibutuhkan upaya menambah jumlah NaCl (garam dapur) yang ditebarkan untuk disemai secara proporsional agar bisa dijatuhkan di tempat yang dikehendaki.

"Tentu mereka juga memperhitungkan parameter cuaca misalnya kecepatan angin, pergerakan awan, dan besarnya awan, serta bolak-baliknya pesawat,” kata Andi ketika dihubungi detikcom, Selasa (04/02/2014).




(brn/brn)