Foto tersebut diambil di salah satu selasar RSUD Koja, Jakarta Utara. Dalam foto tersebut digambarkan seorang pasien yang sudah berusia lanjut harus terbaring tak berdaya di meja resepsionis seorang kamar perawatan. Pasien tersebut nampak terlelap dengan selang infus di tangannya.
Jokowi dan Menteri Perumahan Rakyat, Djan Fariz yang berkeliling melihat foto-foto yang terpajang nampak kaget melihat sebuah foto tentang pasien KJS yang tak terurus dan terpaksa terbaring di meja resepsionis ruang perawatan ICU.
Ia pun berkomentar bahwa hal tersebut terjadi karena keterbatasan kamar rawat di rumah sakit tersebut. "Ini kan karena kamarnya. Kalau dulu masih kurang," ujar Jokowi yang disambut anggukan Djan Faridz.
Ia menjanjikan kondisi tersebut tidak akan terlihat lagi di RSUD di Jakarta. Hal ini karena mulai tahun 2013, ia melakukan beberapa perbaikan di beberapa rumah sakit termasuk RS Koja.
"Tahun mendatang nggak ada begini lagi, karena sudah ada kamarnya. Duitnya sudah, dokternya sudah, bisa berkuranglah," lanjutnya.
Program KJS memang menjadi salah satu kampanye Jokowi Ahok saat maju dalam Pilgub Jakarta. Program ini akhirnya terealisasi di awal tahun 2013.
Sejak direalisasikan, terjadi lonjakan pasien di setiap rumah sakit daerah yang ada di Jakarta. Program ini menuai pro dan kontra dari berbagai pihak termasuk warga Jakarta sendiri.
RSUD Koja adalah satu-satunya rumah sakit besar yang ada di wilayah Jakarta Utara. Karena itu Jokowi tak heran jika ada lonjakan pasien terjadi disana.
Untuk mentaktisi hal ini, pertengahan tahun 2013 pemprov DKI membangun gedung tambahan di rumah sakit tersebut sebanyak 16 lantai. Diharapkan dengan adanya tambahan kamar rawat ini dapat melayani warga Jakarta dengan pelayanan maksimal.
Program KJS ini menurut Wagub DKI, Basuki T Purnama adalah auto pilot dari program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang kini dijalankan oleh pemerintah pusat. Saat JKN diberlakukan, otomatis seluruh pengguna kartu KJS kini menjadi pasien JKN.
(bil/mpr)











































