Seperti yang dialami oleh petani bernama Sarinembah Milala, yang merupakan warga Desa Guru Kinayan. Ladang kopi milik pria berusia 53 tahun ini mati disapu awan panas. Ladang nya pun tidak kecil, dia memiliki ladang kopi dengan luas 2 hektar.
"Ladang kopi saya di dekat Dusun Pegegen mati total kena awan panas Januari lalu," ujar Sarinembah saat ditemui detikcom di Simpang Gurki, Selasa (4/2/2014).
Ladang kopi milik Sarinembah berada sekitar 2 kilometer. Tidak hanya itu, ladang cabai miliknya juga mati akibat hujan abu vulkanik. Ladang cabai itu terletak di dekat Simlang Gurki yang berada di radius 5 kilometer Gunung Sinabung.
"Kalau yang di Gurki ladang cabai nya 1 hektar mati," ucapnya.
Asmara Sembiring, warga Lau Kawar, juga mengalami hal yang sama. Hujan abu tipis terkadang membuat tanaman cabai yang ditanam tidak sempurna.
Sebelum gunung erupsi, Asmara bisa memanen 20 kilogram cabai. Tetapi saat ini hasil panennya menyusut hanya sekitar 8 kilogram.
"Saya juga punya ladang kopi, tapi karena sering hujan abu, jadi tidak bisa berbuah. Cabai saya pun kempes-kempes," ujar Asmara saat ditemui detikcom di kesempatan terpisah.
(rvk/aan)











































