Pilihan euthanasia, alias suntik mati harus diambil dokter hewan dari Balai Kesehatan Hewan dan Ikan (BKHI). Ini karena monyet-monyet tak lagi bisa disembuhkan dari penyakit TBC dan berpotensi menularkan penyakit ke monyet yang sehat.
"Ada 14 ekor yang sudah dilakukan euthanasia karena TBC," ungkap Kepala Seksi Puskesmas LPT BKHI Dinas Peternakan dan Perikanan, V Aswindrastuti, di kantornya, Jl RM Harsono, Ragunan, Jakarta, Selasa (4/2/2014).
Sambil mengenakan masker di leher, Aswindrastuti menjelaskan, sebenarnya ada 87 monyet hasil razia yang datang ke BKHI. Namun jumlah itu menyusut lantaran ada yang mati karena luka-luka, mati karena sakit, termasuk mati karena dilakukan euthanasia.
"Sekarang sisanya 67 di sini. Sehat semua. Lihat itu, semua aktif bermain," kata Aswindrastuti di samping kandang monyet hasil razia itu.
Monyet-monyet ini diberi makan dua kali sehari, pagi dan sore hari, setelah kandang dibersihkan. Menu utamanya yaitu buah dan sayur, sedangkan menu camilannya yaitu jangkrik. Serangga jenis ini diberikan ke monyet lantaran monyet juga masih bisa dikategorikan sebagai karnivora.
"Setiap tiga bulan empat bulan dikasih obat cacing, dikasih vitamin. Kalau kondisinya kurang bagus, kita kasih obat herbal. Misalnya daun pepaya bisa sekaligus menjadi obat karena mengandung antibiotik. Karena kalau kita kasih obat, nanti kita lepasin di hutan kan nggak ada apotek," kata Aswindrastuti ditemani perawat binatangnya setengah berkelakar.
Kondisi kandang berkerangkeng seluas 10x7 meter ini memang memungkinkan monyet-monyet untuk bergerak ke sana-ke mari. Meski sering dibersihkan dua kali sehari, namun bau tak sedap tetap saja tercium. Namun bau-bau seperti ini agaknya tak mempengaruhi aktivitas monyet di dalam kandang.
(dnu/nrl)











































