Kisah-kisah Warga yang Diganggu 'Hantu' Ciliwung

Mistik di Ciliwung

Kisah-kisah Warga yang Diganggu 'Hantu' Ciliwung

- detikNews
Selasa, 04 Feb 2014 13:54 WIB
Kisah-kisah Warga yang Diganggu Hantu Ciliwung
Sungai Ciliwung. (foto-detikcom)
Jakarta - Sambil menggendong bayinya, Suryati mengantar segelas kopi panas untuk suaminya yang sibuk membersihkan sebuah lemari televisi dari kotoran lumpur sisa banjir. Tampak keletihan dari wajah perempuan berusia 29 tahun ini.

“Anak saya rewel. Seharian anak nangis terus. Rumah juga belum terlalu bersih,” kata Suryati kepada detikcom, Senin (3/2) kemarin.

Ada perasaan cemas Suryati dan suami saat banjir tahun ini. Soalnya, mereka punya bayi berusia tujuh bulan. Mengungsi ke rumah orangtua dan saudara pun percuma karena masih satu wilayah yang rawan banjir.

Satu-satunya alternatif yaitu mencoba mengungsi ke posko. Meski juga tidak aman, cara ini harus dilakukan mengingat banjir dua pekan lalu menggenangi 1,5 meter rumahnya yang berlokasi di RT 02/07 Cililitan Kecil, Jakarta Timur.

Setelah surut empat hari lalu, Suryati pun kembali ke rumah bersama suaminya untuk membersihkan kediamannya dari kotoran lumpur. Kali ini ibu mertuanya diajak agar bisa menemani mengurus bayi.

Tapi sejak balik dari posko pengungsian, anaknya selalu rewel, menangis. Sebotol susu yang biasa diberikan menjelang tidur, tidak mempan menenangkan tangisan sang bayi. Bahkan, hari ketiga usai mengungsi, badan bayi Suryati sempat panas dengan suhu 38 derajat.

“Di bawa ke klinik. Dikasih obat turun panas dan mendingan. Cuma masih rewel. Saya bingung kan,” kata Suryati.

Karena bingung, setelah dari klinik Suryati pun ke rumah orangtuanya. Bersama orangtuanya, dia pergi ke salah satu ‘orang pintar’ di daerah Jambul dekat kampus Binawan, Jakarta Timur. Berdasarkan saran orang pintar, anak Suryati harus diberikan bangle dan daun jarak.

Bangle diikat seperti menjadi kalung. Sementara daun jarak diletakan di perut bayi kalau lagi tidur. Untuk rumah juga diberikan syarat agar empat sudut ruang pojok ditaburi garam dan bawang putih.

Menurut Suryati, bayinya tengah diikuti atau melihat makhluk gaib di rumahnya pasca banjir. Saat di posko juga demikian karena kata orang pintar keberadaan bayi membuat makhluk gaib tertarik untuk mengganggu. Apalagi, saat itu di posko ada beberapa bayi yang ikut mengungsi bersama orangtuanya.

Suryati menuruti nasihat si 'orang pintar' tersebut. Sang bayi kini dikalungi bangle.
“Hari ini sudah enggak rewel sih. Cuma tidurnya susah. Rumah juga udah dibersihin sama suami dan bapak saya. Kasihan kalau banjir ada bayi mah,” kata Suryati.

Lain lagi ceritanya dengan warga di Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur. Samiyem salah seorang warga menceritakan, ada buaya buntung penghuni Ciliwung yang sering mengganggu warga.

Buaya buntung itu disebut sebagai jelmaan jin yang sering mengganggu warga saat sedang melakukan aktifitas di kali seperti mandi atau mencuci. Namun, tidak semua warga bantaran kali Ciliwung diganggu buaya buntung.

Buaya jelmaan jin tersebut hanya mengganggu warga yang baru menghuni bantaran kali serta anak – anak kecil. Mereka hilang ketika beraktifitas di kali dan ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.

“Yang diganggu itu orang–orang baru dan anak kecil. Lagi mandi di kali tiba – tiba hilang, entar ditemukan sudah meninggal,” kata ibu 3 anak ini.

Wanita asal Solo Jawa Tengah ini menuturkan, warga yang bakal diganggu oleh sang buaya buntung adalah mereka yang tidak memberikan sesajen. Sesajen itu dalam bentuk daging sapi yang harus dilemparkan ke kali dan akan menjadi santapan buaya buntung.

Nah, jika tidak memberikan sesajen tersebut maka buaya buntung akan datang melalui mimpi. “Tidak semuanya percaya, sebagian kecil aja. Istilah ustadznya, yang percaya itu yang imannya lemah,” katanya.


(erd/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads