Kebetulan rumahnya terletak persis di bibir sungai sepanjang 120 kilometer itu. Menurut Sabeni buaya tersebut bergerak begitu cepat sehingga dia hanya bisa melihat ekornya. Anehnya, dia sama sekali tidak melihat badan serta kepala buaya itu.
Sabeni yakin bahwa yang dia lihat adalah ekor buaya. Apalagi jarak dia melihat hanya sekitar 10 meter dari bantaran sungai. Penampakan ekor ini berlangsung cepat sekitar enam detik. “Geraknya cepat, itu bener buntut buaya. Dia lagi mau masuk ke dalam air,” kata Sabeni ketika berbincang dengan detikcom, Ahad (2/2) lalu di kediamannya.
Menurut Sabeni, bukan hanya dia yang melihat penampakan buaya ini. Ada warga di Kelurahan Cililitan Kecil yang juga melihat seekor buaya yang masuk ke dalam Sungai Ciliwung. Oleh warga di sekitar Sungai Ciliwung kejadian tersebut diyakini seperti mengirim pesan pertanda.
Dia meyakini bahwa ekor buaya yang terlihat adalah jelmaan buaya siluman. Pasalnya buaya selama ini belum pernah terlihat oleh warga. “Kecuali pas mau banjir. Pasti ada aja warga yang kebetulan melihat. Kita itu diingetin secara baik supaya cepat mengungsi. Ya itu percaya enggak percaya jadinya,” kata warga RT 02 RW 07 Kelurahan Rawajati itu.
Enam hari kemudian, firasat Sabeni terbukti. Rumahnya digenangi banjir setinggi dua meter. Dia pun terpaksa mengungsi hampir selama dua pekan. Kejadian mistis juga mewarnai saat banjir. Banyak warga yang tak mau mengungsi kesurupan.
Setahun sebelumnya, ia menceritakan ada dua warga di Rawajati yang kesurupan karena belum bersedia mengungsi. Kesurupan ini terjadi saat proses evakuasi dan belum sampai ke posko pengungsian. “Saya enggak melihat. Katanya orang-orang sih dia teriak-teriak di ban pelampung supaya cepat ngungsi,” kisah Sabeni.
Saat ini banjir memang sudah surut. Namun perasaan cemas masih menghampirinya karena takut banjir besar susulan muncul kembali. “Ngeri juga kalau lihat itu lagi. Yang tua begini kayak saya kan kasihan,” kata Sabeni.
Setiap awal tahun, Sabeni selalu was-was saat musim hujan datang. Hampir setiap sore pula pria asli Jakarta ini punya kegiatan rutin yaitu memantau kondisi Sungai Ciliwung yang hanya berjarak 30 meter dari rumahnya. Banyaknya tumpukan sampah yang menyumbat sungai membuatnya cemas karena rumah dia berada di dataran bawah.
Tumpukan sampah itu jelas menjadi salah satu penyebab air di Sungai Ciliwung meluap hingga menggenangi rumah Sabeni dan tetangganya. Sementara munculnya buaya putih di sungai itu menjelang banjir masih menjadi misteri.
(hat/erd)











































