Misteri Amplop Putih Berkode 'P', 'A, dan 'S' untuk Senayan dari ESDM

Misteri Amplop Putih Berkode 'P', 'A, dan 'S' untuk Senayan dari ESDM

Gagah Wijoseno - detikNews
Senin, 03 Feb 2014 17:44 WIB
Jakarta -

Didi Dwi Sutrisnohadi menjawab lancar pertanyaan penyidik soal setoran uang dari SKK Migas ke Kementerian ESDM. Mantan Kepala Biro Keuangan ESDM yang rumahnya pernah digeledah KPK ini menuturkan, uang itu disiapkan bagi Komisi VII DPR terkait pembahasan APBN-P 2013.

Dalam dokumen yang diperoleh detikcom Senin (3/2/2014), Didi yang berstatus saksi ini bercerita dirinya mendapat perintah dari atasannya Sekjen ESDM Waryono Karno. Sekitar Mei 2013, Waryono memimpin rapat soal APBN-P 2013.

"Nanti ada hantaran untuk Komisi VII DPR," tutur Didi dalam dokumen itu menirukan ucapan Waryono.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Didi menjelaskan, dirinya diminta menunggu di ruang yang lain di sebelah ruang Sekretariat Jenderal. Tak lama datang seorang pria yang masih muda yang memberikan bungkusan dalam paper bag warna cokelat dan diletakkan di meja.

"Pak ada titipan dari SKK," terang Didi dalam dokumen itu menirukan ucapan pria itu.

Pria itu kemudian berlalu setelah menyerahkan bungkusan. Didi hanya mengiyakan. Seorang staf bernama Asep ikut menyaksikan penyerahan itu.

Menurut Didi, tak lama kemudian datang lagi pria yang lain membawa bungkusan berisi uang dolar AS. Dia lupa berapa isinya, namun digabungkannya dengan uang dari pria SKK Migas.

Didi kemudian menghitung uang itu, tak lama Waryono menghampirinya dan meminta membagi-bagi uang itu dalam sejumlah amplop untuk Komisi VII DPR.

"Saya menulis kode dengan huruf 'A', 'P', dan 'S'. Kode 'A' untuk anggota Komisi VII DPR RI, kode 'P' untuk pimpinan Komisi VII DPR RI, dan kode 'S' untuk sekretariat Komisi VII DPR. Kemudian dimasukkan ke dalam paper bag yang saya lupa warna dan coraknya," jelas dia.

Nah, Didi juga menyebut soal penyerahan uang itu kepada seseorang bernama Iryanto yang diketahuinya sebagai orang kepercayaan Ketua Komisi VII Sutan Bhatoegana. Didi juga menyebut uang itu sebagai uang lumpsum.

Perincian uang itu, untuk pimpinan Komisi VII DPR sebanyak 4 orang masing-masing menerima US$ 7.500, kemudian anggota Komisi VII DPR sebanyak 43 orang sebesar US$ 2.500, dan untuk Sekretariat Komisi VII DPR sebesar US$ 2.500.

"Uang itu pemberian Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini kepada Sekjen ESDM Waryono Karno dan selanjutnya diserahkan kepada Ketua Komisi VII melalui orang kepercayaan Sutan Bhatoegana, Iryanto," urai Didi.

Soal setoran ini Sutan Bhatoegana dalam laporan utama Majalah detik edisi 3 - 9 Februari 2014, membantahnya. Menurut Bhatoegana yang diwawancara Majalah detik, tidak ada pemberian uang kepada dirinya.

"Jadi, jawaban saya, kita sendiri tidak ada. Ya, tidak ada memang. Itu kan sudah
di BAP yang disebut ketemu sama beliau. Saya sudah (beri) klarifikasi, di BAP saya sudah ada itu," jelas Sutan.

Bagaimana dengan nama Iryanto? "Dia tidak tahu apa-apa. Tapi dia sudah dipanggil KPK kemarin. Ditanya tentang kinerja-kinerja saja. Apa kerjanya, itu-itu saja, lainnya tidak ada," tutup dia.

Waryono setali tiga uang dengan Sutan Bathoegana. Saat diperiksa penyidik dia mengelak soal amplop untuk Komisi VII DPR itu.

"Saya tidak pernah memberikan barang atau uang kepada anggota Komisi VII DPR dalam rangka RAPBN, RUU APBN-P 2013 atau kegiatan lainnya," tutur Waryono kepada penyidik.

(ndr/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads