Ido akhirnya buka suara seputar awal mula aksi sadisnya menghabisi nyawa Feby. Wajah Ido tanpa ekspresi dan kepalanya sesekali menunduk saat berbagi cerita.
Pria yang berpostur tinggi dan berambut cepak itu menjawab setiap pertanyaan wartawan yang diajukan kepadanya di Mapolres Jakarta Timur, Jatinegara, Senin (3/2/2014).
Ido mengatakan pembunuhan sadis itu berawal saat dirinya mendekati Feby pada 21-22 Januari 2014. "Aku deketin dia, dia ngelempar handphone. Aku dicakar juga, dipukul. Terus aku cekik," ungkap Ido yang terbalut baju tahanan warna biru tua dan celana merah ini. Kedua tangan Ido juga diborgol ke belakang.
Ido mengaku mencekik Feby lantaran kesal. "Saya kesal karena itu kayak bukan Feby lagi. Matanya melotot, mukanya pucat," ujar Ido.
Ia menyesal telah membunuh ibu seorang putri itu dan kabur ke Medan. "Iya (menyesal). Sempat panik (waktu mengetahui Feby tewas)," ujar Ido yang tinggal di Apartemen Comfort, Cibubur, bersama pacarnya.
Ido mengaku menaruh hati kepada Feby. Meski memiliki kekasih, Ido juga nekat menyatakan cintanya kepada Feby yang dinilainya memiliki banyak uang. Rupanya ada motif lain selain naksir. "Biar dapat pekerjaan," kata Ido yang bekerja serabutan ini.
Ido mengatakan tidak pernah diberi uang dan barang oleh Feby selama mereka berteman. Ia pun tidak pernah berhubungan badan dengan mantan istri Hendrik Sulaiman ini. "Nggak...nggak," jawab Ido saat ditanya tentang hal itu.
(aan/nrl)











































