Feby Lorita (31) dan Edo sempat berhenti di sebuah bedeng ukuran 6 meter x 6 meter di kawasan Bojong Gede, Bogor, saat berkendara. Di lokasi inilah Feby diduga dihabisi Edo.
Feby dan Edo ada di dalam bedeng itu pada Selasa 21 Januari 2014. Mereka memilih singgah di bedeng karena kecapaian setelah berkendara dari Jakarta. Mereka berada di Bojong Gede sesuai permintaan Edo yang meminta diantar ke keluarganya ke daerah itu, sebagai syarat ganti rugi kepada Feby Rp 10 juta. Ganti rugi diberikan setelah Edo memukul Feby hingga gigi Feby rontok setelah cintanya ditolak.
"Kira-kira pukul 03.00 WIB lebih, Feby ke belakang. Edo bertanya, ngapain ke belakang? Feby menjawab mau buang air," kata Kapolres Jakarta Timur, Kombes Pol Mulyadi Kaharni, dalam jumpa pers di Mapolres Jakarta Timur, Jakarta, Senin (4/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di situ Edo emosi. Feby dilempar pakai handphone. Feby dicekik. Kemudian Edo ambil pisau. Korban ditusuk lehernya sehingga sesuai autopsi, urat nadi korban putus. Di situlah korban meninggal," ujar Mulyadi.
"Kemudian mayat diikat kaki maupun tangannya dengan kabel listrik dan tali seperti kita temukan di TKP. . Tujuannya agar mayat bisa masuk bagasi Nissan March," lanjut dia.
Rabu 22 Januari siang, kata Mulyadi, Edo beranjak dari lokasi Bojong Gede. "Mobil bermuatan mayat tersebut dibawa ke Apartemen Comfort, tempat tinggal Feby Lorita, hingga berhari-hari dan membusuk," kata Mulyadi.
Edo lalu menghubungi kakaknya, Daniel. "Dia bilang ke Daniel, dia nabrak seseorang. Mayatnya di mobil tapi bingung mau bawa ke mana. Lalu (mobil beserta mayat) dibawa ke Jalan Juanda, Depok. Tappi polisi lagi razia, maka nggak jadi (dibuang). Akhirnya mereka muter, kemudian (mobil dan mayat) dibuang di TPU Pondok Kopi," ungkap Mulyadi. Daniel sekarang juga telah diciduk polisi, hanya saja dia tidak dihadirkan dalam jumpa pers, hanya Edo saja yang dipamerkan.
(aan/nrl)










































