"Motifnya sementara karena dia merasa terbebani dengan cicilan utang yang banyak," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan, Senin (3/2/2014).
Rikwanto mengatakan, sebagai leader di perusahaan pabrik pipa, Epi memiliki gaji standar Upah Minimum Regional (UMR) sebesar Rp 3,5 juta. Namun, gajinya itu dirasakan tidak cukup karena harus melunasi cicilan rumah, kartu kredit hingga utangan perbulannya.
"Dia cicilan rumah BTN perbulannya Rp 800 ribu," kata Rikwanto lagi.
Dengan penghasilan yang hanya Rp 3,5 juta, Epi punya pengeluaran banyak tiap bulannya. Tidak hanya harus membayar cicilan rumah, ia juga harus membayar tagihan 2 kartu kreditnya.
"Kartu kredit Rp 450 ribu dan Mandiri Rp 900 ribu," imbuhnya.
Epi juga punya sejumlah utang di perusahaannya hingga arisan perbulan.
"Bayar utang ke perusahaan Rp 1 juta, arisan Rp 210 ribu," pungkasnya.
Pembunuhan terhadap Ihsan itu dilakukan Epi, bertepatan di ahri ulang tahun Ihsan yang ke-3, Senin 27 Januari 2014 dini hari lalu, di rumahnya di Perum BCL, Jl Arjuna IX No 17N Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Bocah kecil itu tewas setelah ditusuk sebanyak 18 kali dengan sebilah pisau.
Epi juga menusuk istrinya, Ai Cucun sebanyak 10 kali dengan sebilah pisau. Ai Cucun saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit akibat luka tusuk yang dideritanya itu.
Cecep, adik ipar Epi juga nyaris dibunuhnya. Beruntung Cecep dapat melairkan diri lewat atap genteng rumah tersebut. Usai membunuh anaknya dan juga menusuk istrinya, Epi mencoba melakukan upaya bunuh diri dengan cara menghunuskan sebilah pisau ke dadanya. Namun upayanya tidak berhasil karena badannya terlalu gemuk.
(mei/fjp)











































