Kecelakaan Lion Kemungkinan Karena Pilot Enggan Gunakan ILS
Rabu, 01 Des 2004 23:52 WIB
Solo - Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan, belum bisa menemukan penyebab kecelakaan pesawat Lion Air saat pendaratan di Bandara Adi Sumarmo, Solo. Namun sumber di lapangan mengatakan, kemungkinan pilot enggan menggunakan Instrumen Landing System (ILS) saat pendaratan.Seorang petugas yang menangani kecelakaan tersebut memaparkan analisa dari fakta yang terlihat. Fakta yang dikemukakan diantaranya adalah pesawat yang lambat menyentuh landasan sehingga tidak bisa dihentikan dan akhirnya keluar jalur. “Pada cuaca hujan sangat lebat, jarak pandang minim. Pesawat jenis ini maksimal hanya memerlukan 1.600 meter landasan, padahal landasan yang tersedia 2.800 meter. Tapi dalam kasus ini, pesawat touching lewat separuh landasan. Salah satu kemungkinannya pilot enggan mendarat dengan menggunakan perangkat ILS, seperti kebanyakan penerbang lainnya," ujar sumber tersebut. ILS, kata dia, memungkinkan pesawat mendarat dengan aman dalam kondisi kabut tebal sekalipun. Namun diduga pilot Dwi Mawastoro memilih mendaratkan pesawat secara manual. Namun karena jarak pandang yang sangat minim dia terlambat menyadari bahwa posisi pesawat masih terlalu tinggi saat mencapai landasan. "Pesawat terlambat menapak landasan lalu terjadi overshoot (keluar landasan). Pilot tampaknya berusaha menambah power untuk mencoba terbang kembali, tetapi gagal. Pesawat sempat melayang rendah, salah satu rodanya menabrak pagar bandara dan jatuh menabrak rambu-rambu ILS lalu menghujam makam," papar sumber yang tidak bersedia disebut namanya. Analisa lainnya dimungkinkan saat itu pilot mengubah arah sekitar 10 derajat ke kiri. Tindakan kurang tepat itu mengurangi power pesawat. Jika powernya cukup, pesawat dimungkinkan masih bisa mendarat di area sawah di depan makam sehingga bisa meminimalkan korban.“Kemungkinan lain adalah kesalahan pada petugas pemandu pendaratan. Tapi kepastiannya nanti dapat diketahui setelah flight digital data recorder (FDDR) dan cokcpit voice recorder (CVR) dibuka,” lanjutnya.
(fab/)











































