"Pemilu 2014 ditandai oleh 1 momen penting yaitu berakhirnya rezim (partai) demokrat karena elektabilitas Partai Demokrat diperkirakan terus merosot tak terbendungi dibawah 5 persen," kata peneliti LSI, Adjie Alfaraby dalam jumpa pers survei dengan tema '2014: Pemerintahan Golkar atau Pemerintaha PDIP' di kantor LSI, Jalan Pemuda, Rawamangun, Jaktim, Minggu (2/2/2014).
Survei ini dilaksanakan pada 6 hingga 16 Januari 2014 pada 1.200 responden. Responden ini diambil menggunakan metode multistage random sampling dengan pola wawancara tatap muka. Para responden ini diambil perwakilan dari 33 propinsi di Indonesia dengan margin of error 2,9 persen.
Adjie menjelaskan pada pemilu 2004 Demokrat mampu meraup elektabilitas hingga 45 persen. Setelah 10 tahun berlalu, elektabilitas partai berlambang mercy ini merosot jauh hingga 4,7 persen. "Saat ini hanya mampu mencapai 4,7 persen atau turun sekitar 15 persen," lanjutnya.
Penyebab merosotnya elektabilitas ini karena ketidakmampuan partai ini dan ketuanya, SBY mengelola dukungan dari pemilihnya pada pemilu 2009. Tak hanya itu, banyaknya kasus korupsi yang melibatkan kadernya juga memiliki pengaruh besar.
"Elektabilitas Demokrat hancur karena adanya kasus korupsi, 3 kader Demokrat yang ditahan KPK adalah bintang iklan anti korupsi partai ini," sambungnya.
Upaya konvensi sebagai ajang menjaring capres dari partai ini pun dinilai tidak mampu mendongkrak elektabilitas partai. "Elektabilitas 11 capres konvensi juga hanya memperoleh kurang dari 5 persen," pungkas Adjie. (mnb/gah)











































