Ratusan Ikan di Sungai Kampar Mati Teserang Virus Koi Herpes

Ratusan Ikan di Sungai Kampar Mati Teserang Virus Koi Herpes

- detikNews
Rabu, 01 Des 2004 17:55 WIB
Pekanbaru - Ratusan ikan dalam kerambah milik masyarakat di Kabupaten Kampar-Riau mati mengapung dalam sepekan terakhir ini. Kendati belum diketahui secara pasti penyebabnya, namun dugaan ikan itu terjangkit virus koi herpes.Demikian diungkapkan Direktur Rona Lingkungan dan Sumber Daya Alam Universitas Riau (UNRI), Ariful Amry, Rabu (1/12/2004) di ruang kerjanya, Jl Pattimura Pekanbaru.Menurut Ariful, virus sebenarnya tidak dapat muncul begitu saja tanpa ada perantara pembawa maupun dukungan kondisi air yang tidak sehat. Ada kemungkinan pemberian makan secara berlebihan akan menimbulkan lonjakan kandungan nutrisi air yang membuat perkembangbiakan virus tersebut.Kita memang belum bsia memastikan kematian ikan di Kampar sama seperti kejadian di Danau Toba. Tapi paling tidak, pemberian makan ikan berlebihan itu bisa menimbulkan virus," kata Ariful. Ariful menjelaskan, kandungan nutrisi yang berlebihan pada air akan menyebabkan tumbuh suburnya lumut. Sehingga perairan akan berubah warna menjadi lebih gelap, bau busuk. Tingginya konsentrasi ini otomatis meningkatkan kandungan BOD dan COD dalam air. "Kondisi yang rawan untuk perkembangbiakan virus, termasuk virus herpes koi," katanya.Selain soal pemberian makan ternak ikan, aktivitas buka tutupnya pintu waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang di Sungai Kampar, di Kabupaten Kampar dapat juga turut andil dalam kasus ini. Penutupan pintu waduk itu dapat mempengaruhi menyusutnya air secara drastis yang mengakibatkan ikan mengalami stress yang kemudian mati."Namun demikian, segala kemungkinan penyebab kematian ikan di Sungai Kampar harus dibuktikan dengan penelitian yang akurat," kata Ariful.Untuk mendapatkan bukti-bukti yang akurat, menurut Ariful, harus ada fakta di lapangan, kesaksian warga, dan sumber-sumber lain. Finalnya, baik air sungai maupun bangkai ikan harus diteliti di laboratorium.Untuk menjaga kemungkinan terburuk, warga setempat diharapkan tidak mengkonsumsi ikan yang telah menjadi bangkai. Jika air sungai telah menunjukkan tanda-tanda perubahan warna dan bau, penggunaannya untuk konsumsi sehari-hari akan lebih baik dikurangi, bahkan dihentikan untuk sementara. Pemerintah daerah setempat dan pemerintah provinsi diharapkan segera menkaji serius kasus ini, mengingat virus koi herpes dapat menyebar melalui aliran air. (nrl/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini