Mereka yang Mengaku 'Bercanda' Saat Bicarakan Suap

Mereka yang Mengaku 'Bercanda' Saat Bicarakan Suap

- detikNews
Kamis, 30 Jan 2014 13:52 WIB
Mereka yang Mengaku Bercanda Saat Bicarakan Suap
Jakarta -

Zainudin Amali

Obrolan antara Ketua DPD Golkar Jatim Zainudin Amali dengan eks ketua MK Akil Mochtar soal uang Rp 10 miliar untuk pengurusan sengketa Pilkada Jatim terungkap. Keduanya bicara dalam BlackBerry Messenger sedang berdiskusi soal duit.

Lucunya, Zainudin Amali menganggap pembahasan uang untuk memenangkan sengketa Pilkada di MK itu hanya candaan.

"Biasalah itu (pembahasan uang Rp 10 miliar-red) kayak kita lagi bercanda-bercanda begitu," ujar Zainudin saat diperiksa di KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (20/1/2014).

Dalam percakapan itu, Akil menyebut Sekjen Golkar tidak mau menyanggupi permintaan uang Rp 10 miliar. Akil juga mengancam akan menggagalkan terpilihnya Soekarwo sebagai Gubernur Jatim.

Zainudin sebagai ketua DPD Golkar Jatim mengakui adanya permintaan uang dari Akil untuk pemenangan Pakde Karwo. Namun, Zainudin mengaku tak pernah meneruskan permintaan Akil itu ke elite Golkar yang lain, termasuk Sekjen Idrus Marham dan Bendum Setya Novanto.

KPK memang tengah menelusuri dugaan adanya 'permainan' dalam pengurusan sengketa Pilkada Jatim di MK. Penyidik sempat memeriksa Sekjen Golkar Idrus Marham dan Bendahara umum Golkar Setya Novanto terkait dugaan ini.

Chairun Nisa

Politisi Golkar Chairun Nisa terekam dalam SMS ikut meminta jatah dari Rp 3 miliar untuk Akil Mochtar. Akil menolaknya bila harus mengurangi nilai suap. Karena itu, Akil menyarankan agar uangnya ditambah saja jadi Rp 9 miliar.

Saat ditanya soal ini, Nisa membantahnya. Di persidangan dia menyebut ini hanyalah candaan saja.

"Saya ingin tambahkan permintaan fee itu, sesungguhnya bercanda saja, hanya bercanda saya," kata Nisa di Pengadilan Tipikor.

Akil Mochtar

Akil Mochtar mengaku berkomunikasi dengan politisi Golkar Chairun Nisa. Nisa dalam pesan singkatnya meminta bantuan Akil untuk menangani sengketa Pilkada Gunung Mas, Kalteng.

SMS yang dikirim tanggal 19 September 2013 berisikan permintaan Nisa mengurus sengketa untuk kepentingan calon petahana (incumbent). Mendapat SMS tersebut, Akil menjawabnya menggunakan istilah ton emas.

"Saya jawab bergurau, berapa ton emasnya," sebutnya.

Namun seiring dengan bukti-bukti jaksa yang lengkap, Akil akhirnya mau mengakui maksud 3 ton emas itu adalah uang Rp 3 miliar dari Pilkada Gunung Mas.
Halaman 2 dari 4
(mad/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads