Pelaku Pelecehan Seks Disarankan Masuk Rumah Sakit Jiwa

Pelecehan Seksual di Transjakarta

Pelaku Pelecehan Seks Disarankan Masuk Rumah Sakit Jiwa

- detikNews
Rabu, 29 Jan 2014 17:15 WIB
Antrian penumpang bus Transjakarta. (foto-detikcom)
Jakarta - Di kota besar seperti Jakarta banyak ditemui pengidap kelainan seksual seperti frotteurism. Pengidap kelainan seperti ini menghantui penumpang di transportasi umum seperti bus, kopaja, Transjakarta, juga kereta commuter line.

Pelaku frotteurism yang disebut frotteur, termasuk menderita penyakit kejiwaan yang berimbas pada penyimpangan perilaku seksual. β€œDia tidak bisa melakukan hubungan seksual secara normal, jadi tidak bisa melakukan intercourse atau penetrasi seperti hubungan suami istri normal, justru dia mendapatkan kepuasan seksualnya dengan mengesekkan alat kelaminnya di tempat ramai,” kata Psikoseksual Zoya Amirin kepada detikcom, Selasa (28/1).

Maraknya pelaku yang bebas melakukan pelecehan menurut Zoya karena penanganan pelaku yang kurang tepat. Pelaku pelecehan dengan modus menggesek-gesekkan kelamin termasuk kategori penyakit kejiwaan. Jika tak segera ditangani akan berimbas pada perilaku penyimpangan seksual.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maka penanganan yang seharusnya dilakukan yakni lewat rehabilitasi gangguan jiwa, bukan mengurungnya di penjara umum seperti pelaku kriminal yang tidak punya gangguan jiwa.

β€œKenapa di Jakarta ini tetap parah, ya karena orang-orang ini dimasukkan ke penjara. Tapi kalau pelaku kriminalitas seksual ini adalah orang yang punya gangguan jiwa, harusnya dimasukkan ke tempat yang punya rehabilitasi jiwa,” kata Zoya.

Psikolog Universitas Indonesia Sani Budiantini Hermawan mengatakan, maraknya pelecehan seksual di angkutan umum juga karena faktor kurangnya penanganan dari pemerintah.

Hal ini diperparah oleh tingkat egoism masyarakat yang juga tidak melakukan tindakan apapun saat ada pelecehan seksual di tempat umum.

Adanya pembiaran dan kesempatan membuat pelaku pelecehan seksual bebas berkeliaran. Mereka menemukan kenikmatan ketika colek-colek atau menggesek-gesekkan kelaminnya ke orang lain. Tak hanya ereksi, pengidap frotteurism juga ada yang sampai ejakulasi ketika melakukan aktivitas seksual ke tubuh korban.

Jika berhadapan dengan pelaku demikian, Sani berujar para perempuan harus bersikap waspada. β€œJadi ya diri kita sendiri harus punya strategi, misalnya dalam memilih angkutan kalau sudah sampai berdesakan ya turun saja, atau kita pelototin pelakunya. Kalau pada malam hari jangan bertindak gegabah,” papar Sani.

(ros/erd)
Hoegeng Awards 2025
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini
Selengkapnya



Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Ajang penghargaan persembahan detikcom bersama Polri kepada sosok polisi teladan. Baca beragam kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini.
Hide Ads