Bencana banjir bandang menerjang kota Manado pada 15 Januari 2014 lalu. Saat detikcom berkesempatan berkeliling, Rabu (29/1/2014), tampak kesibukan warga dengan lalu lintas padat. Namun gundukan lumpur tebal masih jelas terlihat mengotori sisi dan trotoar di jalan-jalan utama Manado. Tumpukan lumpur itu bercampur dengan sampah dan bekas peralatan yang rusak karena banjir.
Seperti terlihat jelas di Jalan BW Lapian, Jalan Balaikota, Jalan Balaikota 2, dan Jalan Sudirman. Tidak hanya gundukan lumpur kering setebal 10-30 cm, di beberapa titik masih terdapat lumpur dengan genangan air membuat jalanan agak licin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak jauh dari kedua gedung itu, situasi yang sama juga jelas tampak di gedung perpustakaan Manado. Gundukan ratusan buku yang rusak dan berlumpur bertumpuk begitu saja di depan gerbang gedung yang masih tergenang lumpur. Entah sudah berapa lama gundukan itu berada di sana.
Lapangan Tikala depan gedung walikota Manado masih ditimbun lumpur setebal 40 cm.
Perkantoran dan pertokoan di sepanjang jalan-jalan tadi juga belum semuanya aktif lagi. Sebagian besar masih tutup. Hanya beberapa toko yang pegawainya tampak sibuk membersihkan kaca dan lobi.
Situasi yang sama terlihat di pemukiman warga di Desa Komo, Kelurahan Lingkungan 3, Kecamatan Wenang, Manado. Bau lumpur dan sampah menyengat sepanjang gang di pemukiman yang dekat dengan pertemuan DAS Tondano dan sungai Sawangan itu. Beberapa warga sibuk membersihkan perabot mereka yang masih bisa dibersihkan. Sementara barang lainnya dibiarkan menggunung depan rumah mereka. Pemukiman mereka terendam banjir hampir 3 meter.
Banjir bandang 15 Januari lalu menerjang 9 kecamatan dari 11 kecamatan di Manado. Banjir terjadi karena tiga sungai besar, yakni Sungai Tondano, Sawangan, dan Sario meluap pasca hujan lebat di hulu. Banjir ini adalah terparah yang pernah menerjang Manado.
(rmd/)










































