"Sejarah itu kan selalu mencatat, setiap pergantian rezim, segala catatan dan segala sesuatu tentang rezim seblumnya selalu ditutup dan dikubur. Termasuk pencapaian dan catatan bagusnya," kata juru bicara Golkar, Tantowi Yahya, kepada detikcom, Rabu (29/1/2014).
Namun demikian, Golkar memandang upaya penghapusan memori tentang Soeharto itu ternyata mustahil. Pencapaian positif 'The Smiling General' untuk bangsa ini otomatis akan selalu melekat di benak masyarakat.
"Tapi waktu kemudian membuktikan, kebaikan dan keberhasilan itu tidak bisa ditutup. Setelah 16 tahun reformasi, masyarakat kemudian menilai, banyak pencapaian-pencapaian positif memang dicapai pada era Soeharto," lanjut Tantowi.
Memori-memori 'manis' yang dimampatkan itu kemudian mencoba berontak dari kesadaran publik. Akibatnya, memori itu muncul dalam bentuk lain, seperti ungkapan 'Piye kabare, enak jamanku to?' atau ungkapan lain yang muncul belakangan.
"Itu (ungkapan soal Soeharto) ekspresi bahwa zaman itu lebih enak," nilai Tantowi.
Tantowi menyatakan, memang tak adil rasanya jika kenangan itu lantas mendiskreditkan pencapaian pemerintahan pasca reformasi. Jika dibandingkan dengan sekarang, sebenarnya pencapaian-pencapaian Presiden SBY juga tak kalah monumental.
"Tidak ada presiden Indonesia seperti Pak SBY yang berani melawan korupsi secara terbuka. Pemberantasan korupsi secara besar-besaran dan sampai ke akar-akarnya itu hanya terjadi pada era Pak SBY," tuturnya.
(/)











































