Wanita asal Sumedang itu tidak menyangka suaminya akan berbuat keji seperti itu. Saat itu, Ai terbangun dari tidurnya karena mendengar suara di ruang tengah rumahnya, Perum BCL Jl Arjuna X Blok B35 No 17, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.
"Istrinya mengira suaminya sedang mengaduk-aduk susu untuk anaknya. 'Kok tumben-tumbennya bikinin susu buat anak'," kata Kasat Reskrim Polres Bekasi Kabupaten Kompol Dedy Murti, Selasa (28/1/2014).
Mendengar sang istri berteriak, pria bertubuh tambun itu pun langsung melepaskan tubuh anaknya yang saat itu dipegangnya. Leader operasional di perusahaan pipa, PT Mitsuba itu lalu menghampiri istrinya dan menghujamkan sebilah pisau ke istrinya berulang kali.
"Istrinya itu mau dia bunuh juga. Dia tusuk istrinya sebanyak 10 kali," ucapnya.
Ai pun tergeletak bersimbah darah di lantai ruang tamu. Ia mengalami luka tusuk di sekujur tubuhnya, kepala dan leher. Sementara bercak darah Ihsan, tercecer di atas sehelai karpet dan bantal berwarna ungu.
Suara kegaduhan ini juga membuat Cecep, adik ipar Epi terbangun. Cecep lalu turun dari lantai 2 dan mendapati kakaknya sudah bersimbah darah. Melihat kehadiran Cecep di tangga rumah tersebut, Epi pun mengejarnya. Beruntung, Cecep bisa menyelamatkan diri dari aksi sadis Epi ini.
"Adik iparnya kabur lewat genteng rumahnya dan melaporkan kejadian itu kepada tetangganya," lanjutnya.
Tetangga pun seketika berkerumun dan mengepung Epi. Di saat itu, Epi yang menyadari perbuatannya itu, mencoba melakukan upaya bunuh diri dengan menujamkan sebilah pisau ke dadanya. Namun upayanya itu tidak berhasil, lantaran badannya yang gemuk tidak membuat pisau menembus dadanya.
"Ada bekas luka di dada tersangka dan sudah diobati. Dia memang waktu itu mencoba bunuh diri, sebelum akhirnya datang warga," imbuhnya.
Warga yang dengan cepat menginformasikan peristiwa itu ke polisi, membuat aparat Polsek Cikarang tidak lama langsung mengamankan Epi. Sementara polisi juga mengevakuasi jasad Ihsan ke rumah sakit dan membawa Ai untuk dirawat di rumah sakit Anissa.
Di kantor polisi, Epi mengaku sedang dilanda stress. Beban pekerjaannya yang menuntutnya untuk memenuhi target, menjadi alasan ia melakukan pembunuhan tersebut. Epi dilanda kegalauan, jika tidak mampu memenuhi target, maka ia akan dipecat dari perusahaan sehingga tidak bisa memberikan masa depan cerah bagi keluarganya.
"Dari kegalauannya itu timbul depresi dan timbul pemikiran untuk melakukan pembunuhan terhadap putra dan istrinya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto.
(mei/tfq)










































